Bank Indonesia (BI) menyatakan terus memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dengan sejumlah strategi. Hal ini dilakukan utamanya untuk menjaga inflasi dan mendorong perekonomian.
Adapun dalam beberapa hari terakhir, rupiah mengalami tekanan. Pada pembukaan perdagangan pagi ini melemah 0,13 persen atau 23 poin ke level Rp18.106 per dolar Amerika Serikat (AS).
Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi,”
ujar Direktur Eksekutif Senior, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangannya Rabu, 29 Juli 2026.
Optimalisasi Bauran Kebijakan Moneter


Erwin menyatakan, BI terus berkomitmen menjaga stabilitas sebagai prasyarat utama mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dalam hal ini BI meningkatkan optimalisasi bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan, instrumen moneter lain juga dipertajam,”
jelasnya.
Erwin menuturkan berbagai instrumen tersebut meliputi triple intervention di pasar valas (Spot, NDF dan DNDF) serta optimalisasi instrumen moneter seperti SRBI yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing.
Jaga Likuiditas Pasar
Erwin menuturkan, strategi dalam menjaga kecukupan likuiditas pasar uang dan perbankan juga diperkuat. Dalam hal ini posisi SRBI berada dalam tren yang lebih terkendali.
Ke depan, penerbitan SRBI terus diarahkan agar selaras dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas dan mendukung masuknya aliran modal asing guna memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah,”
katanya.
Di sisi lain, Bank Indonesia juga terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) akan terus diperkuat guna mendorong pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas, termasuk penguatan mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan agar transmisi pembiayaan menjadi semakin efektif.
Selain itu, kebijakan digitalisasi sistem pembayaran juga terus diakselerasi sehingga makin mendorong pertumbuhan ekonomi,”
imbuhnya.























