Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menyoroti kondisi hukum dan kehidupan bernegara di Indonesia. Ia mempertanyakan arah negara yang dinilainya masih terus ‘goyang’ meski Indonesia akan memasuki usia 81 tahun kemerdekaan.
Megawati mengaku pernah merenungkan persoalan tersebut bersama ayahnya, yakni Presiden pertama RI Soekarno. Dari kontemplasi itu, ia mempertanyakan seperti apa sosok pemimpin yang seharusnya memimpin Indonesia.
Pak, ini kenapa negoro kok koyok ngene yo? Bayangkan loh, Pak, padahal sudah merdeka, tapi kok goyang-goyang terus ya? Jadi, mesti diapain?”
kata Megawati saat pidato dalam acara Ekspos Naskah Sumber Arsip Dasar Negara II dikutip dari YouTube Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Ia kemudian mengaku bertanya mengenai sosok Presiden yang ideal bagi Indonesia. Menurutnya, seorang Presiden mesti memiliki kecintaan kepada rakyat dan mampu membawa negara berdiri di atas kaki sendiri.
Loh, jadi presiden yang kayak apa sih yang mestinya jadi? Ah, yang cinta pada rakyatnya. Ah, yang bisa membuat negara ini katanya makmur, sentosa, yang harusnya berdiri di atas kaki sendiri,”
ujarnya.
Menurut Megawati, cita-cita itu membutuhkan karakter kuat dari masyarakat Indonesia. Ia menyebut empat sikap yang harus dimiliki, yakni keteguhan, keberanian, kesabaran, dan keyakinan.
Kalau ini yang empat ini semua orang Indonesia punya keteguhan, keberanian, kesabaran, dan keyakinan bahwa kalau kita berjalan pada jalan yang benar,”
tutur Megawati.
Ia kemudian mengutip prinsip Satyam Eva Jayate. Megawati menerjemahkannya sebagai keyakinan bahwa kebenaran pada akhirnya akan menang.
Satyam Eva Jayate. Artinya apa? Kebenaran pasti menang, dan saya yakin kebenaran pasti menang,”
katanya.
Namun, Megawati mengaku prihatin melihat kondisi hukum yang justru bisa menghasilkan keadaan sebaliknya. Ia menyindir praktik penegakan hukum yang dinilainya seperti karet.
Mana ada kayak sekarang ini, hah? Yang namanya hukum saya bilang kayak karet. Apa? Yang salah dibenarkan, hah? Yang benar disalahkan,”
ujar Megawati.
Pernyataan itu disampaikan Megawati saat membahas pentingnya menjaga kemerdekaan dan fondasi kehidupan bernegara.
Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan yang telah diperjuangkan tidak cukup hanya dirayakan, tetapi juga harus dipelihara.
Jadi, kan ini sudah di sini ditulis bakal 81 tahun kita merdeka. Nah, kalau enggak dipelihara merdekanya, lalu gimana?”
katanya.
Menurut Megawati, para pendiri bangsa telah bersusah payah menyiapkan fondasi yang dapat menjadi pegangan bagi Indonesia. Salah satunya adalah Pancasila.
Tapi kan untuk supaya ada yang menjadi pegangannya, itu dengan susah payah loh dibuat oleh para pendiri bangsa kita loh, apa? Akhirnya, yang disebut Pancasila,”
ujar Megawati.
Ia mengatakan Pancasila juga kerap ia bawa dalam pidatonya ketika berada di luar negeri. Megawati menyebut nilai-nilai Pancasila dapat diterima secara universal.
“Saya kalau ke luar negeri, di dalam pidato saya yang saya buat sendiri. Saya masukkan Pancasila, selalu saya diberi apa? Hah? Standing ovation,” tuturnya.
Megawati menilai, nilai-nilai Pancasila tidak hanya relevan bagi Indonesia. Namun, juga dapat dipahami dalam konteks kemanusiaan secara universal.
“Standing ovation itu apa? Enggak bisa orang nyuruh, adalah berdiri sambil why? Karena itu sangat mereka bilang universal,” kata Megawati.
Ia pun menegaskan kembali pentingnya menjaga prinsip-prinsip yang menjadi dasar kehidupan berbangsa. Menurutnya, kemerdekaan, hukum, dan Pancasila harus berjalan dalam satu garis dengan cita-cita para pendiri bangsa.
Lah, monggo saja, Ketuhanan Yang Maha Esa, loh apapun, Allah kamu bisa dijabarkan dan seterusnya. Perikemanusiaan, dan lain sebagainya,”
ujar Megawati.
























