Peluang Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM berpindah partai dan membangun poros baru pada Pilpres 2029 dinilai terbuka, termasuk kemungkinan berpasangan dengan Anies Baswedan.
Pengamat politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga menilai, KDM dan Anies memiliki karakter politik yang berbeda tetapi dapat saling melengkapi jika dipertemukan dalam satu kontestasi nasional.
Salah satunya bisa saja Dedi bergabung dengan Anies Baswedan untuk maju pada Pilpres 2029,”
katanya kepada Owrite, Selasa, 18 Agustus 2026.
Menurut Jamiluddin, duet KDM dan Anies berpotensi menjadi kekuatan politik yang signifikan. Ia mengatakan, keduanya dapat menjangkau kelompok pemilih yang berbeda, terutama kalangan nasionalis dan religius.
Dua sosok ini akan sangat kuat bila bersatu. Setidaknya dua sosok ini dapat membius kalangan religius dan nasionalis untuk mendukung mereka,”
ucapnya.
Dijelaskan Jamiluddin, kemungkinan tersebut dapat terbuka apabila KDM tidak memperoleh ruang yang cukup di internal Gerindra untuk melanjutkan ambisi politiknya menuju Pilpres 2029.
Jika Gerindra menutup peluang bagi KDM, lanjutnya, mantan Bupati Purwakarta itu memiliki opsi untuk mencari kendaraan politik lain.
Jadi, hal itu berpeluang terjadi bila Dedi diperlakukan tidak baik di internal Gerindra. Dedi bisa saja berlabuh ke partai lain untuk mewujudkan ambisi politik,”
jelasnya.
Dikatakan Jamiluddin, perpindahan KDM ke partai lain tidak hanya akan menjadi persoalan pergantian kendaraan politik.
Langkah tersebut berpotensi berkembang menjadi pembentukan poros baru apabila KDM kemudian memilih berkolaborasi dengan Anies.
Pasangan Alternatif
Ia menilai kombinasi KDM dan Anies dapat menjadi alternatif dalam peta persaingan Pilpres 2029, terutama jika keduanya mampu membangun basis dukungan yang kuat dan mendapatkan dukungan partai politik.
Dedi bisa saja melakukan perlawanan dengan bersama Anies untuk melawan Prabowo pada Pilres 2029,”
tutupnya.
Jamiluddin melihat peluang tersebut sangat bergantung pada dinamika internal Gerindra dan perkembangan politik nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Jika hubungan KDM dengan partainya tetap baik dan ruang politiknya terbuka, skenario tersebut mungkin tidak terjadi. Namun, apabila KDM merasa dibatasi, opsi membangun kekuatan baru bersama Anies dapat menjadi salah satu jalan politik.




















