Psikolog Meity Arianty menilai pengenalan bahasa asing kepada siswa sekolah dasar (SD) perlu mempertimbangkan kemampuan literasi anak. Menurutnya, literasi bahasa Indonesia sebaiknya menjadi prioritas.
Meity mengatakan penting penguatan literasi Bahasa Indonesia sebelum anak diarahkan untuk membaca dan menulis dalam bahasa asing.
Secara psikologis bahasa Indonesia sebaiknya tetap menjadi prioritas utama,”
kata Meity kepada Owrite, Jumat, 21 Agustus 2026.
Meity mengatakan, anak usia 6–7 tahun yang duduk di kelas 1 SD masih berada dalam tahap membangun fondasi literasi. Pada fase itu, anak mulai mengenali hubungan antara bunyi dan huruf, membaca kata, memahami makna, hingga belajar menulis.
Dia menyampaikan pengenalan bahasa asing tetap bisa dilakukan sejak dini. Namun, kemampuan membaca dan menulis dalam bahasa asing sebaiknya tak langsung jadi target utama pembelajaran pada kelas 1 SD.
Membaca dan menulis dalam bahasa asing menambahkan tuntutan kognitif karena anak harus mempelajari sistem bahasa sekaligus dalam bahasa yang belum dikuasainya,”
jelas Meity.
Maka itu, Meity menilai pembelajaran bahasa asing untuk siswa kelas 1 SD lebih ideal jika diawali dengan kemampuan listening dan speaking. Anak bisa terlebih dahulu diperkenalkan dengan kosakata sederhana melalui percakapan, permainan, lagu, cerita, maupun aktivitas sehari-hari.
Sementara, menurutnya, kemampuan reading dan writing dalam bahasa asing dapat dikembangkan secara bertahap. Hal itu bisa dilakukan setelah fondasi literasi bahasa Indonesia anak sudah cukup kuat.
Kemampuan reading, writing bahasa asing secara bertahap saja setelah fondasi literasi bahasa Indonesia sudah kuat,” tuturnya.
jelas Meity.
Lebih lanjut, Meity menyampaikan penguatan bahasa Indonesia dan pengenalan bahasa asing tak perlu diposisikan sebagai dua hal yang saling bertentangan. Kata dia, justru kemampuan bahasa ibu yang kuat bisa jadi fondasi sebelum anak memperluas kemampuan literasinya ke bahasa lain.
Jadi, prinsipnya ‘kuatkan literasi bahasa ibu, kemudian perluas dengan literasi bahasa asing,’ bukan mempertentangkan keduanya,”
jelas Meity.


























