Wacana Presiden Prabowo Subianto terkait pengenalan bahasa asing kepada siswa sekolah dasar (SD) tidak boleh mengesampingkan keberadaan bahasa daerah.
Psikolog Meity Arianty mengingatkan, bahasa daerah memiliki peran penting dalam perkembangan anak karena berkaitan dengan identitas, kedekatan emosional, dan lingkungan sosial.
Menurutnya, persoalan yang perlu diperhatikan bukan anggapan bahwa anak otomatis akan bingung ketika harus mengenal beberapa bahasa sekaligus.
Risiko justru muncul ketika bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing sama-sama diberikan sebagai tuntutan akademik kepada anak kelas 1 SD.
Dari perspektif psikologi perkembangan, bahasa daerah juga perlu dipertimbangkan karena bukan sekadar alat komunikasi, tetapi bagian dari identitas, kedekatan emosional, dan lingkungan sosial anak,”
ujar Meity kepada Owrite.
Pembagian Fungsi
Ia menyarankan adanya pembagian fungsi yang jelas dalam pengenalan ketiga bahasa tersebut. Bahasa Indonesia menjadi fondasi literasi akademik, bahasa daerah berperan dalam penguatan identitas dan komunikasi budaya, sedangkan bahasa asing dapat menjadi kompetensi tambahan untuk kebutuhan global.
Anak sebenarnya mampu tumbuh multilingual, tetapi kualitas lingkungan bahasa dan cara pengajarannya jauh lebih menentukan daripada sekadar jumlah bahasa yang diperkenalkan,”
katanya.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar pengenalan bahasa asing tidak justru mengurangi kesempatan anak menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah secara bermakna dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi pendekatan yang lebih sehat adalah bahasa Indonesia sebagai fondasi literasi akademik, bahasa daerah sebagai penguatan identitas dan komunikasi budaya, sedangkan bahasa asing sebagai kompetensi tambahan/global,”
tuturnya.
Masih Banyak PR
Meity juga mengingatkan pemerintah agar tidak hanya berfokus pada wacana pembelajaran bahasa asing. Menurutnya, masih terdapat persoalan mendasar dalam sistem pendidikan yang perlu mendapat perhatian, termasuk mutu pendidikan dan kondisi sejumlah sekolah yang belum memadai.
Ia menilai, penguasaan bahasa asing tidak selalu harus ditempuh melalui penambahan mata pelajaran atau tuntutan akademik di sekolah. Anak juga dapat memperoleh paparan bahasa asing dari lingkungan, termasuk media sosial dan platform digital.
Jangan sampai mengejar bahasa asing membuat bahasa Indonesia belum kuat dan bahasa daerah justru semakin kehilangan ruang dalam kehidupan anak,”
ujar Meity.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan wacana pengenalan bahasa asing kepada siswa SD. Gagasan tersebut kemudian menjadi perhatian karena penerapannya berkaitan dengan kesiapan anak serta beban pembelajaran di sekolah.


























