Pemerintah didorong mengalihkan sementara anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk memperkuat penanganan bencana di sejumlah daerah.
Pakar Hukum Tata Negara, Feri Amsari menilai besarnya anggaran MBG dapat menjadi sumber pembiayaan untuk membantu masyarakat terdampak yang tengah menghadapi kondisi darurat akibat bencana.
Saya tidak mengerti kenapa negara tidak menghentikan MBG sementara untuk bencana ini. Lalu, seluruh biaya itu dialihkan kepada penanggulangan bencana, agar ada rasa empati yang maksimal dalam kehidupan bernegara,”
kata Feri kepada Owrite, Selasa, 8 September 2026.
Menurutnya, anggaran MBG yang disebut mencapai sekitar Rp1,2 triliun per hari bukanlah jumlah kecil. Dalam kondisi bencana, dana sebesar itu dinilai bisa memberikan dukungan signifikan apabila untuk sementara dialihkan ke kebutuhan penanganan dan pemulihan masyarakat terdampak.
Feri kemudian menghitung potensi anggaran yang bisa dihimpun jika program tersebut dihentikan sementara selama sekitar dua pekan.
Bayangkan Rp1,2 triliun per hari itu dialihkan sekitar dua minggu. Kita bisa merasakan puluhan triliun rupiah bisa membantu warga yang terdampak bencana,”
ucapnya.
Lebih lanjut, ia menilai pengalihan sementara tersebut bukan semata persoalan anggaran. Namun, juga bisa jadi bentuk keberpihakan negara kepada masyarakat yang sedang berada dalam situasi darurat.
Feri menekankan, saat bencana terjadi, pemerintah perlu menunjukkan empati secara maksimal.
Dia menilai negara tak seharusnya membiarkan masyarakat terdampak bertumpu pada solidaritas masyarakat atau kelompok sipil untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Jadi, tidak berharap lagi negara rasa empati publik. Lalu, publik sumbang dan bekerja untuk kebutuhan saudara-saudaranya yang berada di tempat bencana,”
jelas akademisi Universitas Andalas itu.
Karena itu, Feri mendorong pemerintah mempertimbangkan kembali prioritas penggunaan anggaran di tengah situasi bencana.
Bagi dia, penghentian sementara program MBG dan pengalihan dananya untuk penanggulangan bencana bisa jadi bentuk konkret kehadiran serta empati negara kepada masyarakat yang sedang membutuhkan pertolongan.























