Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terus memperkuat upaya mitigasi bencana gempa bumi di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.
Selain memantau aktivitas kegempaan secara intensif, BMKG melakukan survei dan kajian untuk mendukung rekonstruksi wilayah terdampak.
Pj. Kendali Mutu Data Gempa dan Tsunami BMKG Pepen Supendi mengatakan pemantauan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari jumlah gempa, magnitudo, lokasi, kedalaman, hingga pola perkembangan gempa susulan.
Saat ini BMKG terus melakukan pemantauan aktivitas kegempaan di wilayah Flores secara intensif. Pemantauan tidak hanya melihat jumlah gempa, tetapi juga magnitudo, lokasi, kedalaman, serta pola perkembangan gempa susulan dari waktu ke waktu,”
kata Pepen kepada Owrite.
8.193 Gempa Susulan
Hingga 27 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 8.193 gempa bumi susulan setelah gempa utama M7,7. Gempa susulan tersebut memiliki magnitudo mulai dari M1,0 hingga M6,2.
Dari ribuan gempa susulan tersebut, sebanyak 34 kejadian memiliki magnitudo di atas M5. Sementara itu, 146 gempa dilaporkan dirasakan oleh masyarakat.
Menurut Pepen, pemantauan kegempaan juga dilengkapi dengan survei lapangan dan kajian untuk mengetahui kondisi kegempaan serta respons tanah di wilayah yang terdampak.
Selain pemantauan, BMKG juga melakukan survei lapangan dan kajian untuk memahami kondisi kegempaan serta respons tanah di wilayah terdampak. Hasil kajian ini penting untuk mendukung upaya mitigasi dan rekonstruksi,”
jelasnya.
BMKG juga memberikan pendampingan teknis kepada pemerintah daerah di Flores melalui survei mikroseismik dan makroseismik. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung penyusunan peta mikrozonasi di wilayah terdampak gempa.
Melalui survei mikroseismik dan makroseismik ini tujuannya untuk mendukung penyusunan peta mikrozonasi. Peta ini nantinya dapat menjadi dasar dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan kembali bangunan yang lebih tahan terhadap gempa,”
papar Pepen.
Pepen menegaskan, langkah BMKG tidak berhenti pada pemantauan aktivitas gempa. Data dan hasil kajian kegempaan diarahkan untuk menjadi dasar dalam mengurangi risiko bencana di masa mendatang.
Jadi, upaya BMKG tidak hanya berupa pemantauan gempa, tetapi juga bagaimana hasil pemantauan dan kajian tersebut dapat digunakan untuk mengurangi risiko bencana ke depan,”
tambahnya.























