Bank Indonesia (BI) memproyeksikan, inflasi global naik ke 4,4 persen dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 4,3 persen. Kondisi ini karena masih tingginya ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkirakan ekonomi global tahun ini rendah sebesar 3 persen, namun diikuti dengan tekanan inflasi. Meski sudah ada kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS)-Iran situasi di Timur Tengah masih tetap tinggi.
Pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 diperkirakan tetap rendah sebesar 3 persen dan diikuti naiknya tekanan inflasi menjadi sekitar 4,4 persen,”
ujar Perry dalam konferensi pers Kamis, 18 Juni 2026.
Prospek Ekonomi Global Turun
Perry mengatakan, perang yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 telah menurunkan prospek perekonomian global. Sebab, perang menimbulkan gangguan produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan.
Perang yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026 telah menimbulkan gangguan produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan antarnegara serta menurunkan prospek perekonomian global,”
katanya.


Bank Sentral Kerek Suku Bunga
Perry menuturkan, sejumlah bank sentral mulai menaikkan suku bunga kebijakannya untuk merespons kenaikan inflasi. Suku bunga kebijakan moneter AS Fed Funds Rate (FFR) kemungkinan akan naik seiring dengan prospek inflasi AS yang lebih tinggi.
Sejumlah bank sentral mulai menaikkan suku bunga kebijakannya untuk merespons kenaikan inflasi tersebut,”
katanya.























