Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana untuk mengenakan biaya pelayaran di Selat Hormuz dan kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Akibatnya, harga minyak dunia naik pada perdagangan Selasa, karena memicu kekhawatiran pasar.
Dilansir dari dari CNBC, pada Selasa, 14 Juli 2026 harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak pengiriman Agustus naik 2,27 persen menjadi US$79,91 per barel.
Sedangkan harga minyak mentah Brent untuk pengiriman September naik 2,14 persen menjadi US$85,11 per barel, melanjutkan kenaikan setelah sebelumnya melonjak 9,6 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.
Tarif Selat Hormuz


Trump pada Senin mengatakan, AS akan mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz dengan tarif 20 persen dari seluruh muatan yang diangkut, setelah menyebut AS sebagai ‘penjaga’ rute transit minyak yang vital tersebut.
Dalam sebuah postingan di Truth Social, Trump juga mengumumkan bahwa Washington akan memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di dekat Selat Hormuz, sehingga semakin memperparah konflik dengan Teheran.
Komando Pusat AS kemudian menyatakan bahwa blokade tersebut akan mulai berlaku pada Selasa pukul 16.00 waktu Timur AS.
Risiko Eskalasi Militer


Di samping itu, Bank investasi Citi memperingatkan bahwa usulan Trump untuk mengenakan biaya pelayaran di Selat Hormuz secara signifikan meningkatkan risiko eskalasi militer lebih lanjut.
Kemungkinan rezim Iran menarik diri dari MoU hingga setelah pemilihan umum tengah masa jabatan AS juga semakin besar, sebuah skenario yang kemungkinan besar akan menyebabkan harga minyak tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama,”
tulis Citi dalam laporan yang diterbitkan pada Selasa dini hari.
Adapun sebelum AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Namun, lalu lintas pelayaran menurun tajam setelah Iran mulai menargetkan kapal-kapal yang melintasi jalur tersebut pada awal Maret, tetapi mulai pulih setelah Washington dan Teheran mencapai kesepakatan sementara.


























