Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja kegiatan usaha pada kuartal II-2026 meningkat dibandingkan kuartal I-2026. Namun, kondisi keuangan perusahaan turun dibandingkan kuartal sebelumnya.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha sebesar 12,97 persen pada kuartal II, lebih tinggi dari 10,11 persen pada kuartal I-2026.
Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) mengindikasikan kinerja kegiatan dunia usaha meningkat pada kuartal II-2026,”
ujar Denny dalam keterangannya Jumat, 17 Juli 2026.
Kegiatan Usaha yang Meningkat


Denny menjelaskan, kegiatan usaha yang meningkat mayoritas ada pada Lapangan Usaha (LU) pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 1,74 persen. Kondisi ini sejalan dengan masih berlangsungnya panen tanaman pangan di sejumlah wilayah lumbung pangan antara lain Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat.
Kemudian LU pertambangan dan penggalian dengan SBT sebesar 0,37 persen. Hal ini sejalan dengan curah hujan menurun sehingga mendukung aktivitas pertambangan.
Selanjutnya LU konstruksi 0,81 persen sejalan dengan peningkatan aktivitas pengerjaan proyek pembangunan. Serta LU penyediaan akomodasi dan makan minum 0,50 persen, sejalan dengan permintaan yang tetap terjaga pada rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan momen libur sekolah pada kuartal II-2026
Terjaga Tapi Melambat
Adapun untuk kuartal III-2026, responden memperkirakan kegiatan usaha tetap terjaga dengan SBT 11,75 persen, namun lebih rendah dibandingkan SBT 12,97 persen pada kuartal II-2026.
Kegiatan usaha diperkirakan meningkat bersumber dari LU industri pengolahan, LU perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor sejalan dengan prakiraan tetap terjaganya permintaan masyarakat. Kemudian LU konstruksi seiring dengan berlanjutnya pengerjaan sejumlah proyek.
Selain itu, kinerja kegiatan usaha pada LU pertambangan dan penggalian juga diperkirakan meningkat dipengaruhi oleh penurunan curah hujan sehingga mendorong kenaikan aktivitas pertambangan.


Likuiditas Turun
Lebih lanjut, berdasarkan laporan BI untuk kondisi keuangan perusahaan, responden menilai likuiditas perusahaan masih dalam kondisi baik pada kuartal II-2026. Namun, likuditas tersebut lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya.
Saldo Bersih (SB) likuiditas kuartal II-2026 lebih baik sebesar 15,03 persen, meski lebih rendah dibandingkan SB 17,05 persen pada kuartal I-2026,”
tuturnya.
Kemudian untuk kondisi rentabilitas atau kemampuan perusahaan untuk mencetak laba terindikasi masih dalam kondisi baik pada kuartal II. Hal ini tercermin dari SB Rentabilitas sebesar 11,87 persen, meski lebih rendah dari SB 14,87 persen pada kuartal sebelumnya.
Persentase responden yang menjawab kondisi rentabilitas pada kuartal II-2026 lebih baik sebanyak 22,34 persen menurun dibandingkan 24,04 persen pada kuartal sebelumnya,”
tulis laporan BI.
Responden juga menilai akses kredit perbankan pada kuartal II-2026 tetap mudah. Hal ini tercermin dari SB akses kredit tercatat sebesar 2,45 persen pada kuartal II-2026, meski lebih rendah dibandingkan SB 4,84 persen pada kuartal I-2026.


Harga Jual Naik
Di samping itu, BI mengungkap bahwa tekanan harga jual mengalami peningkatan pada kuartal II. Hal ini tercermin dari SBT harga jual pada kuartal II sebesar 22,38 persen, lebih tinggi dari SBT 15,82 persen pada kuartal I-2026.
Peningkatan harga jual ini bersumber dari LU perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan motor SBT 5,80 persen, LU industri pengolahan 5,16 persen, serta LU pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan SBT 3,50 persen.
Menurut responden, peningkatan tersebut terutama didorong oleh kenaikan biaya bahan baku/material,”
kata BI.























