Peringatan kesehatan terkait virus Zika di Bali kembali menjadi perhatian setelah Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menerbitkan Level 2 Travel Health Notice pada 7 Agustus 2026.
Peringatan tersebut dikeluarkan setelah adanya laporan kasus Zika pada pelaku perjalanan yang kembali dari Bali.
Level 2 yang diberikan CDC berarti wisatawan diminta menerapkan kewaspadaan lebih tinggi (Practice Enhanced Precautions), bukan larangan bepergian ke Bali.
Otoritas Bali juga menyatakan hingga saat ini belum ada kasus Zika yang dilaporkan terdeteksi di wilayah Bali.
Epidemiolog Dicky Budiman mengatakan, kondisi tersebut perlu dipahami secara proporsional. Menurutnya, keberadaan laporan kasus pada pelaku perjalanan tidak serta-merta membuktikan Bali sedang mengalami wabah Zika.
Apakah Bali saat ini sedang mengalami outbreak Zika? Jawabannya belum cukup bukti untuk mengatakan demikian,”
ujar Dicky dalam keterangannya yang dikutip Jumat, 28 Agustus 2026.
Namun, Dicky menilai ketiadaan kasus terkonfirmasi yang dilaporkan di Bali juga tidak dapat langsung diartikan bahwa virus Zika tidak pernah atau tidak sedang bersirkulasi di Indonesia.
Menurut dia, Zika memiliki karakteristik yang membuat penyakit tersebut berpotensi tidak terdeteksi. Sebagian besar orang yang terinfeksi tidak mengalami gejala atau hanya mengalami penyakit ringan.
Yang bisa terjadi adalah under-detection. Saya sebagai epidemiolog melihat ini sebagai isu yang lebih penting daripada perdebatan apakah Bali aman atau tidak aman,”
ujarnya.
Demam Ringan
Dicky menjelaskan, gejala Zika umumnya berupa demam ringan, ruam pada kulit, mata merah atau konjungtivitis, nyeri sendi, nyeri otot, sakit kepala, dan rasa lemah. Gejala biasanya berlangsung sekitar dua hingga tujuh hari.
Gejala klinis dari Zika ini adalah pertama demam ringan, sering di bawah 38,5 derajat. Banyak orang yang terinfeksi tidak mengalami gejala sama sekali,”
katanya.
Masalahnya, gejala tersebut dapat menyerupai penyakit lain yang lebih umum ditemukan di Indonesia, seperti Dengue dan Chikungunya.
Gejala Zika ini overlap, sering disalahartikan dengan Dengue atau Chikungunya. Itu demam, ruam, artralgia, mialgia, dan juga konjungtivitis, mata merah, dapat juga menyerupai arbovirus lainnya,”
Kondisi tersebut membuat kasus Zika berpotensi terlewat dalam sistem surveilans. Selain gejala yang tidak spesifik, pemeriksaan laboratorium juga memiliki tantangan karena masa viremia Zika relatif singkat.
Kalau pasien diperiksa terlambat, PCR dapat jadi negatif sehingga kasusnya terlewat,”
katanya.
Menular Lewat Nyamuk
Dicky mengatakan jalur utama penularan Zika adalah melalui gigitan nyamuk Aedes, terutama Aedes aegypti. Nyamuk yang sama juga menjadi vektor utama penyakit Dengue dan Chikungunya.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan Bali secara biologis memiliki kondisi yang memungkinkan terjadinya transmisi Zika.
Bali memiliki iklim tropis, populasi Aedes aegypti, kepadatan penduduk, urbanisasi, serta mobilitas internasional yang tinggi.
Zika menular melalui empat jalur utama. Ada gigitan nyamuk, ini jalur utamanya. Terutama ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti,”
kata Dicky.
Selain gigitan nyamuk, Zika dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Virus dapat bertahan lebih lama pada sejumlah cairan tubuh, termasuk semen, dibandingkan periode viremia dalam darah.
Zika ini juga dapat ditularkan melalui hubungan seksual karena virus Zika ini bertahan lebih lama di beberapa cairan tubuh, terutama semen,”
ujarnya.
Penularan juga dapat terjadi dari ibu ke janin selama kehamilan. Jalur ini menjadi perhatian utama karena infeksi Zika pada ibu hamil dapat menyebabkan congenital Zika syndrome, termasuk mikrosefali serta gangguan otak dan neurologis pada janin.
Selain itu, Zika juga berpotensi menimbulkan gangguan mata, gangguan pertumbuhan, keguguran, dan kelahiran prematur.
Ini yang menjadi alasan utama kenapa isu kesehatan Zika ini menjadi isu kesehatan masyarakat yang jauh lebih serius daripada derajat demamnya,”
tutur Dicky.
Jalur penularan lainnya adalah melalui darah dan produk darah serta secara potensial melalui transplantasi organ.
Waspada, Bukan Panik
Dicky menegaskan, risiko Zika tidak sama bagi semua orang. Pada orang dewasa sehat, infeksi umumnya ringan dan dapat sembuh sendiri. Namun, perhatian lebih besar diperlukan terhadap ibu hamil dan perempuan yang sedang merencanakan kehamilan.
Yang paling rentan adalah ibu hamil karena infeksi maternal bisa berdampak ke janin. Kedua, perempuan yang sedang merencanakan kehamilan,”
jelas.
CDC sendiri menyebut Zika terutama ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, serta dapat ditularkan dari ibu hamil kepada janin. Infeksi selama kehamilan dapat menyebabkan cacat lahir tertentu.
Sementara itu, European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) mencatat 11 kasus Zika terkait perjalanan ke Indonesia yang dilaporkan Prancis sepanjang Juli 2025 hingga Maret 2026, termasuk empat kasus yang terdeteksi pada awal 2026. Sebagian besar kasus tersebut berkaitan dengan perjalanan ke Bali dan pulau-pulau di sekitarnya.
Karena itu, Dicky menilai narasi yang lebih tepat saat ini bukan menyebut Bali bebas Zika ataupun menyatakan Bali sedang mengalami outbreak, melainkan adanya sinyal epidemiologis yang perlu direspons dengan penguatan surveilans dan kewaspadaan.
Jadi jangan mengatakan Bali bebas Zika, itu tidak ilmiah, tidak berdasar. Ataupun sebaliknya Bali sedang outbreak Zika, itu juga tidak tepat atau salah,”
tambahnya.





















