Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka peluang bagi perguruan tinggi di Indonesia untuk terlibat dalam program pengadaan kompor listrik.
Pemerintah bahkan menyiapkan anggaran sebesar Rp600 miliar pada 2027 bagi kampus yang mampu memproduksi kompor listrik.
Dilansir dari laman resmi Kementerian ESDM, hal ini disampaikan Bahlil saat menghadiri Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta, pada Sabtu, 2 Juni 2026.
Bahlil mengungkapkan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung implementasi berbagai program strategis nasional di sektor energi.
Bahlil pun menawarkan kesempatan kepada perguruan tinggi yang memiliki kemampuan memproduksi kompor listrik untuk terlibat langsung dalam pengadaan tersebut.
Di Kementerian ESDM tahun 2027 mendatang ada program pengadaan kompor listrik Rp600 miliar dan kampus siapa yang mau bikin langsung akan kita pesan pengadaannya di kampus itu saja,”
ujar Bahlil dikutip dari laman ESDM.
Implementasi Program E20
Selain program kompor listrik, Bahlil juga mengajak perguruan tinggi berkolaborasi dalam implementasi Program E20, yakni bahan bakar yang merupakan campuran bensin dengan 20 persen bioetanol.
Berdasarkan konsumsi bensin nasional yang mencapai 40 juta kiloliter (KL) pertahun, pemerintah memperkirakan kebutuhan bioetanol murni untuk mendukung program ini mencapai sekitar 4 juta kiloliter (KL) per tahun.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Bahlil mendorong perguruan tinggi untuk mengembangkan teknologi pengolahan komoditas lokal seperti tebu, singkong, dan jagung menjadi bioetanol.
Menurutnya, hasil riset di lingkungan kampus harus mampu diterapkan pada skala industri sehingga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Ia juga menegaskan pemerintah siap menjadi penjamin pasar bagi produksi bioetanol dalam negeri melalui Program E20.
Skema ini diharapkan dapat mendorong kemitraan antara perusahaan inti dan petani, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.
Tak hanya itu, pemerintah juga mendorong pengembangan energi alternatif lainnya, seperti compressed natural gas (CNG), jaringan gas rumah tangga (jargas), serta kompor energi alternatif.
Seluruh program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menghemat devisa negara.

























