Aktivis Universitas Indonesia (UI), Hafiz Haernanda mengkritik intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya perlu dievaluasi di tengah kondisi ekonomi nasional.
Hafiz mengatakan, kritik tersebut disampaikannya saat berdiskusi dengan perwakilan pemerintah dari Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI dan anggota DPR.
Hafiz mempertanyakan narasi bahwa kunjungan luar negeri selalu bertujuan mendatangkan manfaat ekonomi bagi Indonesia, sementara yang terjadi adalah peminjaman uang.
Saya beberapa hari lalu berdebat dengan juru bicara pemerintah. Mereka selalu mengatakan ketika Pak Prabowo ke luar negeri itu untuk mencari uang, padahal menurut saya faktanya yang didapat justru pinjaman,”
kata Hafiz di podcast Owrite yang dikutip, Jumat, 3 Juli 2026.
Menurutnya, penggunaan anggaran negara untuk kunjungan luar negeri perlu dipertimbangkan secara lebih cermat, terutama apabila melibatkan rombongan dalam jumlah besar.
Dalam sehari menginap di hotel bintang lima, melakukan berbagai kegiatan, dan faktanya juga banyak sekali orang yang ikut. Menurut kami itu unnecessary,”
ucapnya.
Ia menilai, pengeluaran negara seharusnya diprioritaskan untuk kebutuhan yang lebih mendesak di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat.
Yang kami maksud pemborosan adalah hentikan pengeluaran APBN yang tidak diperlukan,”
tegasnya.
Lebih lanjut, pemerintah sebaiknya lebih memusatkan perhatian pada penyelesaian persoalan ekonomi di dalam negeri dibanding memperbanyak agenda perjalanan ke luar negeri.
Seharusnya tetap berada di dalam negeri terlebih dahulu karena kondisi ekonomi sedang bermasalah,”
jelasnya.
Dalam pandangan Hafiz, setiap penggunaan APBN perlu memiliki manfaat yang dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat, dan disertai dengan pertanggungjawaban yang transparan.
Kami ingin anggaran negara digunakan secara lebih efektif dan difokuskan pada kebutuhan yang benar-benar mendesak bagi rakyat,”
ujarnya.






















