Melihat fenomena panas ekstrem di Eropa yang menyebabkan ribuan orang meninggal dunia, Epidemiolog, dan peneliti Indonesia dari Universitas Griffith, Australia dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH mengatakan bahwa Indonesia juga memiliki risiko akan cuaca panas tersebut.
Namun, karakter panasnya berbeda dengan Eropa. Dokter Dicky menjelaskan bahwa Indonesia memang tidak memiliki musim panas ekstrem seperti Eropa dan Australia, namun memiliki kombinasi suhu tinggi dan kelembapan yang sangat tinggi yang meningkatkan heat index atau suhu yang dirasakan tubuh.
Sehingga, kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri melalui penguapan keringat jadi jauh berkurang.
Dengan perubahan iklim, kejadian heatwave non-klasik dan suhu ekstrim lokal misalnya di malam hari yang tetap panas, dan periode panas berkempenjangan ini yang berpotensi kita alami,”
ujar dr Dicky kepada Owrite.
Lantas apa yang harus dilakukan untuk tetap menjaga stamina saat cuaca panas?
Sebelum Merasa Haus Harus Minum Air Putih
Dokter Dicky mengatakan hal yang paling penting adalah minum air putih. Sebelum merasa haus harus minum air putih.
Ia juga menyebutkan, hindari aktivitas berat di antara jam 10 pagi sampai jam 4 sore kemudian pakai pakaian longgar dan terang, gunakan ventilasi atau pendingin ruangan kalau memungkinkan, juga kalau ada anggota keluarga anak bayi atau lansia harus diperhatikan, diperiksa kondisinya, jangan dibiarkan tinggal sendiri, terutama lansia.
Kemudian juga gejala heat exhaustion dan heat stroke ini, sejak dini harus diketahui dan dikenali,”
katanya.
Tak hanya itu, dr Dicky berpesan agar pemerintah tidak berdiam diri karena harus ada pendekatan preventif untuk mencegah situasi Indonesia ini dan total secara umum menjadi tidak semakin memburuk.
Tentu harus ada satu sistem peringatan dini panas yang mengintegrasikan data meteorologi dan kesehatan, juga penyesuaian jam kerja bagi pekerja luar ruangan saat indeks panas tinggi, juga perlindungan pekerja sektor informal dan formal melalui standar keselamatan kerja berbasis heat index, juga peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan dalam saat melaksana penyakit akibat panas,”
paparnya.
Termasuk juga harus ada hutan kota lebih banyak, perluasan ruang terbuka hijau, penghijauan kota, desain kota yang lebih adaptif terhadap panas. Ini penting,”
sambungnya.
Dokter Dicky mengatakan gelombang panas ini tidak hanya ancaman massa sekarang tapi juga masa depan.
Peristiwa di Eropa harus jadi pelajaran bahwa negara dengan sistem kesehatan maju sekalipun tetap mengalami lonjakan kematian kalau tidak memiliki kesiapsiakan terhadap panas ekstrim.
Kita punya kesempatan belajar dari pengalaman yang dilihat di Eropa, tapi tentu ini harus dimulai dari komitmen para pimpinan pemerintah,”
tandasnya.






















