Seorang pelajar inisial R (17) nekat meledakkan sekolahnya, MAN 3 Padang, Selasa 14 Juli 2026. Pelaku ternyata korban bullying oleh teman sebayanya di sekolah.
Tindakan ini kemungkinan merupakan akumulasi dari beban tekanan psikologis yang mendalam,”
kata Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Susmelawati Rosya saat dikonfirmasi, pada Kamis, 17 Juli 2026.
Rosya menyampaikan R sudah jadi korban bullying sejak menduduki kursi kelas dua di MAN 3. Insiden itu terus berlanjut hingga R naik kelas tiga.
Meski demikian, polisi masih mendalami bentuk perundungan terhadap R.
Rosya menjelaskan pelaku belajar bahan baku bom rakitan bermodal dari internet. Pelaku mempelajari cara membuat bom rakitan sejak Februari 2026 hingga April 2026. Sementara, bahan baku bom rakitan dibeli secara daring.
Dari hasil pemeriksaan terhadap pelaku, memang dia itu mengaku belajar autodidak secara mandiri,”
ujar Rosya.
Polisi memastikan R bukan korban paparan aksi terorisme. Sebab, tak ditemukan adanya jaringan-jaringan tertentu.
Kini, kepolisian akan berfokus pada melakukan rehabilitasi psikologis agar remaja R tidak terpapar lebih jauh.
Polisi juga memperhatikan pemulihan baik secara fisik maupun psikologis terhadap korban ledakan.
Kapolres sudah berkoordinasi dan berkolaborasi dengan OPD setempat untuk pemulihan dan rehabilitasi korban. Ini sedang menjadi prioritas utama,”
tutur Rosya.
Insiden ledakan di MAN 3 Padang terjadi sekitar pukul 11.30 WIB pada Selasa, 14 Juli 2026. Pelaku R diduga mengikuti grup online dan mengetahui cara merakit bahan peledak dari situ tanpa sepengetahuan orangtuanya.
Aksi nekat R mengaku terinspirasi insiden ledakan bom rakitan di SMAN 72 Jakarta.























