Cuaca dingin menjadi tantangan bagi Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan dalam membangun rumah sakit lapangan di Stadion Golo Dukal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ketua Tim EMT Komposit Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI Ruteng dr. Franky Rumondor mengatakan pembangunan RS Lapangan dilakukan hampir 30 jam.
“Kami membangun rumah sakit lapangan kurang lebih hampir 30 jam, dengan kondisi cuaca yang dingin dan dengan 13 personel (pembangun),”
ucap Franky dalam keterangan resmi yang dikutip pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Meski dibangun dalam kondisi yang tidak mudah, rumah sakit tersebut kini mulai difungsikan untuk mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa, termasuk pasien yang membutuhkan tindakan operasi.
Franky mengapresiasi 13 personel yang terlibat dalam pembangunan fasilitas tersebut, sebab kerja cepat tim menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat tetap memperoleh layanan kesehatan setelah bencana.
Pengerahan tim dan pembangunan rumah sakit lapangan merupakan bagian dari respons cepat pemerintah untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana.
“Mereka adalah orang-orang yang luar biasa yang dikirimkan oleh Pusat Krisis Kementerian Kesehatan untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana di Kabupaten Manggarai,”
kata Franky.
Operasi
Operasi pertama di fasilitas tersebut dilakukan pada 19 Agustus terhadap seorang anak laki-laki berusia 11 tahun yang patah tulang paha akibat gempa. Tindakan berupa pemasangan pen pada tulang paha dilakukan oleh dr. Basuki, dokter spesialis ortopedi dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Menurut Basuki keberadaan rumah sakit lapangan menjadi penting ketika rumah sakit maupun fasilitas kesehatan permanen terdampak bencana atau tidak dapat beroperasi secara optimal.
Ia menilai fasilitas kesehatan lapangan dapat menjadi penopang pelayanan medis di wilayah yang terdampak bencana, terutama untuk tindakan yang membutuhkan ruang dan peralatan khusus seperti operasi.
“Fasilitas ini sangat membantu untuk pelayanan kesehatan, terutama untuk operasi ketika rumah sakit ataupun fasilitas kesehatan yang lain terdampak gempa ataupun tidak dapat digunakan,”
kata Basuki.
Dia berharap fasilitas kesehatan lapangan dapat terus dikembangkan agar mampu menjangkau lebih banyak pasien dalam situasi bencana dan anak yang menjalani operasi dapat segera pulih dan kembali beraktivitas.
“Semoga adik ini nanti bisa sehat kembali dan bisa menjadi pelari ulung karena dia adalah seorang anak yang suka berlari,”
tutur Basuki.
Rumah sakit lapangan di Stadion Golo Dukal menandai upaya pemerintahg memperkuat kesinambungan pelayanan kesehatan di tengah kondisi pascabencana. Fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi penopang layanan medis selama fasilitas kesehatan permanen belum berfungsi optimal.























