Sedikitnya 2.800 orang disebut menjadi korban dalam 12 kasus keracunan selama pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kepemimpinan Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Temuan MBG Watch tersebut menambah sorotan terhadap keamanan program yang menyasar anak-anak sekolah, terlebih karena dalam sejumlah kejadian jumlah korban mencapai ratusan orang dalam satu kasus.
MBG Watch menilai, besarnya jumlah korban tidak lagi cukup dipandang sebagai persoalan kesalahan individual atau kendala teknis di lapangan. Mereka mengklaim telah mengingatkan potensi persoalan tersebut bahkan sebelum program MBG resmi dijalankan.
Jadi MBG Watch ini bahkan sebelum MBG berjalan, itu sudah memberikan rekomendasi. Sudah melakukan kajian dan studi terkait itu,”
kata Annette Mau dari Koalisi MBG Watch dan juga Aliansi Ibu Indonesia kepada Owrite, Jumat, 11 September 2026.
Menurut Annete Mau, kajian dan rekomendasi tersebut telah dilakukan pada November 2024. Program MBG kemudian resmi mulai berjalan pada 6 Januari 2025, tetapi kasus keracunan pertama yang mereka catat disebut muncul hanya sepekan setelah program diluncurkan.
Itu November 2024, program ini berjalan 6 Januari 2025. 13 Januari langsung keracunan, paling pertama,”
ungkapnya.
Kasus tersebut disebut terjadi di Sukoharjo, Jawa Tengah. Sejak kejadian itu, MBG Watch mengaku terus melakukan pencatatan terhadap berbagai laporan keracunan yang muncul dalam pelaksanaan program MBG.
13 Januari 2025, itu di Sukoharjo, Jawa Tengah. Dan sejak itu MBG Watch secara aktif, mendata semua kasus keracunan yang terjadi,”
ujarnya.
Pola Jumlah Korban
Lebih jauh, Annete melihat adanya perbedaan pola jumlah korban pada setiap periode kepemimpinan Kepala BGN. Pada era Dadan, misalnya, jumlah kasus disebut cukup banyak, tetapi korban dalam setiap kejadian umumnya berada pada kisaran puluhan hingga ratusan orang.
Nah, ini kalau saya mau amati, di eranya Dadan, kasus keracunannya itu banyak, kasusnya. Tapi mungkin perkeracunan korbannya sekitar puluhan sampai ratusan,”
ucapnya.
Pola yang relatif sama disebut terjadi pada masa kepemimpinan Nanik S. Deyang. Menurut Annete, meski jumlah kasus kurang lebih sama dengan periode sebelumnya, jumlah korban dalam satu kejadian umumnya masih berada di bawah 200 orang.
Tapi di eranya Nanik, dia kan cuma singkat tuh ya, masa kepemimpinan Nanik. Kasus keracunannya mungkin kurang lebih sama seperti Dadan,”
tuturnya.
Namun, MBG Watch menilai, situasinya berubah pada periode kepemimpinan Sudaryono. Mereka menyoroti jumlah korban yang disebut melonjak meski jumlah kasus secara keseluruhan dinilai tidak sebanyak periode sebelumnya.
Tapi di eranya Sudaryono ini luar biasa, padahal dia baru menjabat Juli 2026. Dan ini kasusnya mungkin tidak terlalu banyak secara angka kasus, tapi korbannya luar biasa,”
jelasnya.
Menurut MBG Watch, satu kejadian bahkan dapat menyebabkan 400 hingga 500 orang menjadi korban. Salah satu kasus yang disebut sangat parah terjadi di Papua.
Satu kasus itu bisa sampai 400–500 korban. Yang di Papua itu parah sekali, yang di Depapre Papua,”
tegasnya.
Rentetan laporan keracunan juga disebut terus bermunculan sejak awal September. MBG Watch menggambarkan laporan datang secara beruntun, bahkan ketika mereka tengah menyiapkan rilis mengenai kasus sebelumnya.
Kemudian yang ada juga baru-baru ini, rentetan dari 1 September. Kita belum nafas, dari awal September belum istirahat nih,”
terangnya.
Laporan dari Jombang kemudian disusul laporan dari Rembang. Dalam laporan yang disebut terakhir, jumlah korban bahkan diklaim mencapai 700 orang.
Mau keluar, masuk laporan Jombang, mau keluarin rilis, masuk lagi laporan Rembang. Loh, Rembang 700,”
ujarnya.
Ganti Pimpinan Bukan Solusi
Besarnya jumlah korban yang dicatat tersebut membuat MBG Watch menilai persoalan keamanan MBG tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengganti kepala BGN. Mereka juga menilai perubahan aturan saja tidak akan menyentuh akar persoalan.
Jadi kami menganggap ini sama sekali bukan ada di tataran lagi cukup dengan mengganti kepala BGN. Bukan lagi ada di tataran dengan cukup, you gonta-ganti peraturan, bukan,”
ungkapnya.
Karena itu, MBG Watch menyebut persoalan keracunan MBG telah masuk pada level yang lebih mendasar. Mereka menilai persoalan tersebut bersifat sistemik dan fundamental, bahkan mempertanyakan desain program sejak awal.
Tapi masalahnya sistemik, mendasar, fundamental. Desainnya salah, rusak sejak awal,”
























