Aksi demonstrasi mahasiswa yang mengkritik berbagai kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka bermunculan di sejumlah daerah. Salah satunya, aksi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM) menggeruduk forum diskusi yang dihadiri tiga pejabat Kabinet Merah Putih.
Adapun gelombang demo mahasiswa bermunculan dengan mengangkat isu beragam. Mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, kondisi ekonomi yang memburuk, maraknya kasus dugaan korupsi, hingga polemik pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
Meski demikian, gelombang perlawanan mahasiswa saat ini dinilai belum mampu berkembang menjadi gerakan nasional yang solid seperti yang terjadi di era Reformasi 1998.
Pengamat politik, Arifki Chaniago mengatakan salah satu persoalan utama gerakan mahasiswa saat ini adalah absennya figur sentral. Menurut dia, kehadiran figur sentral itu penting untuk menyatukan berbagai kelompok mahasiswa dari berbagai kampus dan daerah.
Belum ada figur atau ikon yang muncul untuk memperkuat dan menyatukan pergerakan mahasiswa tersebut,”
kata Arifki Chaniago kepada Owrite, Rabu, 17 Juni 2026.
Menurutnya, tanpa kehadiran tokoh pemersatu, gerakan mahasiswa cenderung berjalan sendiri-sendiri. Kondisi itu bakal sulit untuk membangun tekanan politik yang lebih besar terhadap pemerintah.
Karena itu, pergerakan yang muncul cenderung terpecah-pecah,”
ujarnya.
Arifki menilai, kondisi tersebut berbeda dengan Reformasi 1998 ketika massa mahasiswa memiliki figur yang mampu menjadi titik temu berbagai kelompok pergerakan. Kehadiran tokoh yang berperan sebagai pemersatu memiliki pengaruh luas dan jadi faktor penting dalam membangun konsolidasi nasional.
Menurut saya, kondisi inilah yang membuat gerakan mahasiswa tidak berjalan secara maksimal, terutama ketika tidak ada pihak atau tokoh yang memainkan peran pemersatu,”
tuturnya.
Meski demikian, Arifki memperkirakan kritik dan demonstrasi mahasiswa tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Berbagai persoalan yang menjadi perhatian publik masih berpotensi memicu aksi-aksi baru di sejumlah perguruan tinggi.
Saya rasa pergerakan ini tetap akan muncul di beberapa kampus lain. Tetapi, tidak akan semasif yang terjadi di kampus-kampus besar seperti UI, UGM, dan kampus-kampus utama lainnya,”
ujar Arifki
Aksi gelombang demontrasi mahasiswa bermunculan di sejumlah daerah. Salah satunya dilakukan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI serta organisasi mahasiswa lain di Jakarta pada Jumat, 12 Juni 2026.
Massa elemen mahasiswa turun ke jalan menyuarakan aspirasi kritis terkait program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, aksi mahasiwa dikawal ketat aparat Polri-TNI yang berjaga untuk mencegah mahasiswa menuju Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.
Massa mahasiswa kembali turun ke jalan pada Senin, 15 Juni 2026. Perwakilan dari mahasiswa bahkan bertemu dengan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka di Istana Wapres, pada Senin sorenya.


