Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 18 Jun 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Sepak Bola
  • Purbaya
  • DPR
  • prabowo
  • MBG
  • iran
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Politik / Di Balik Fenomena BEM Bersatu, Pengamat Soroti Demokrasi Semu Era Prabowo
Politik

Di Balik Fenomena BEM Bersatu, Pengamat Soroti Demokrasi Semu Era Prabowo

Rika PangestiAmin-Suciady-Owrite
Last updated: Juni 18, 2026 3:19 pm
Rika Pangesti
Amin Suciady
Share
Kelompok mahasiswa yang mengatasnamakan BEM Bersatu.
Kelompok mahasiswa yang mengatasnamakan BEM Bersatu saat beri keterangan pers. (Foto: Istimewa).
SHARE

Munculnya kelompok mahasiswa yang secara terang-terangan mendukung pemerintah, seperti BEM Bersatu dinilai bukan sekadar dinamika biasa.

Peneliti The Indonesian Institute (TII) Adinda Tenriangke, justru mengingatkan kondisi itu muncul di tengah ruang kritik yang semakin tertekan dan kualitas demokrasi yang menurutnya mengarah pada ‘demokrasi semu’.

Baca juga:
BEM ‘Mahasewa’ Pro Pemerintah Bermunculan, Pengamat: Waspada Suara Kritis Bisa… Fenomena munculnya dukungan terbuka sejumlah kelompok mahasiswa kepada pemerintah, seperti BEM Bersatu,…
Vladimir Putin Kumpulkan Pemimpin ASEAN di Kazan, Prabowo Absen Hadir Presiden Rusia Vladimir Putin mengumpulkan para pemimpin negara-negara ASEAN dalam Konferensi Tingkat…
Sindir Tokoh yang Berubah Haluan Usai Dapat Jabatan, Islah Bahrawi:… Fenomena berubahnya sikap sejumlah tokoh politik setelah bergabung ke lingkar kekuasaan kembali…
  • BEM ‘Mahasewa’ Pro Pemerintah Bermunculan, Pengamat: Waspada Suara Kritis Bisa Tak Didengar
  • Vladimir Putin Kumpulkan Pemimpin ASEAN di Kazan, Prabowo Absen Hadir
  • Sindir Tokoh yang Berubah Haluan Usai Dapat Jabatan, Islah Bahrawi: Jijik Lihatnya!

Menurutnya, keberadaan kelompok yang mendukung maupun mengkritik pemerintah sebenarnya merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Namun fenomena mahasiswa yang cenderung membela pemerintah menjadi menarik, karena selama ini mahasiswa identik dengan kelompok yang aktif mengawasi dan mengkritisi kebijakan negara.

Adinda menilai, yang perlu diuji adalah argumen dan data. Dengan begitu, diharapkan mahasiswa sebagai civitas akademika yang belajar teori, konsep, dan menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi dapat mengabdi kepada masyarakat.

Mereka harus punya argumen berbasis data, bukan hanya sekadar bilang ‘pro harga mati’ tanpa dasar yang masuk akal,”

katanya kepada Owrite, Kamis, 18 Juni 2026.
BEM Bersatu Dukung MBG, Ada Dugaan Skenario Pecah Belah Gerakan Mahasiswa

Ia menegaskan, yang perlu menjadi perhatian publik bukan soal siapa yang pro atau kontra terhadap pemerintah, melainkan kualitas argumentasi yang dibangun masing-masing pihak.

Dalam proses demokrasi, sambung Adinda, perdebatan seharusnya berlangsung pada level gagasan dan bukti bukan sekadar adu jumlah pendukung.

Yang perlu diuji atau diinvestigasi adalah apakah argumen dan datanya berbasis bukti atau tidak. Tiap pihak, baik yang pro maupun kontra, harusnya muncul dengan argumen yang kuat sehingga perang ide atau perang argumen terlihat jelas dan mencerahkan publik,”

ujarnya.
Baca juga:
BEM Bersatu Dukung MBG, Ada Dugaan Skenario Pecah Belah Gerakan… Kemunculan kelompok yang mengatasnamakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bersatu dengan bermanuver mendukung…
Diskusi Berakhir Ricuh, Upaya Pejabat Prabowo Tundukan Mahasiswa UGM Gagal… Forum diskusi publik yang menghadirkan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Kepala Badan Percepatan…
Bansos Digital Meluncur November 2026, Kata Luhut Negara Hemat Rp260… Pemerintah menargetkan sistem digitalisasi Perlindungan Sosial (Perlinsos) digital berbasis kecerdasan buatan (AI)…
  • BEM Bersatu Dukung MBG, Ada Dugaan Skenario Pecah Belah Gerakan Mahasiswa
  • Diskusi Berakhir Ricuh, Upaya Pejabat Prabowo Tundukan Mahasiswa UGM Gagal Total
  • Bansos Digital Meluncur November 2026, Kata Luhut Negara Hemat Rp260 Triliun

Ruang Kebebasan Berekspresi Menyempit

Meski demikian, Adinda melihat persoalan yang lebih serius justru terletak pada kondisi demokrasi Indonesia saat ini. Ia menilai ruang kebebasan berekspresi semakin menyempit karena kritik dari masyarakat sipil kerap berujung tekanan hingga kriminalisasi.

Teman-teman media pasti tahu, ketika ada suara kritis dari masyarakat sipil, mereka cenderung dikriminalisasi. Hal ini menimpa dosen, mahasiswa, lembaga pusat studi, universitas, akademisi, buruh, nelayan hingga jurnalis,”

katanya.

Kondisi tersebut, menurut Adinda, membuat demokrasi Indonesia berjalan baik secara prosedural, tetapi bermasalah secara substansi.

Terjadi illiberalism dalam demokrasi kita, atau bisa dikatakan ini adalah pseudo-demokrasi atau demokrasi semu. Secara normatif kita memang demokratis, tetapi secara substansial demokrasi dan proses kebijakan politik kita sedang bermasalah,”

ujarnya.
BEM Psikologi UNJ Murka, Nama Organisasi Dicatut untuk Serang Aksi Demo Mahasiswa

Adinda menilai, kualitas kebijakan publik tidak ditentukan oleh banyaknya kelompok yang mendukung pemerintah. Demokrasi, kata dia, bukan soal siapa yang memiliki suara mayoritas, melainkan bagaimana seluruh pandangan dapat didengar dan dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan.

Demokrasi itu bukan soal tirani mayoritas atau soal siapa yang dukungannya paling banyak. Demokrasi bukan berarti ketika ada kelompok yang mendukung, lalu kebijakan yang sebenarnya salah dan perlu dikritisi dianggap menjadi benar dan tetap dijalankan,”

ujarnya.

Adinda juga mengkritik lemahnya mekanisme checks and balances yang seharusnya dijalankan lembaga negara. Ia menilai, banyak kontroversi kebijakan akhirnya meledak di ruang publik karena fungsi pengawasan formal tidak berjalan maksimal.

Keributan justru terjadi di luar, bukan di pilar-pilar negara yang seharusnya melakukan mitigasi risiko sejak awal. Ini mengkhawatirkan karena di periode tahun 2024 ini DPR menjadi makin mandul. Kita sebenarnya hanya ingin sistem ini bekerja,”

katanya.

Karena itu, ia mengingatkan pemerintah agar tidak hanya membuka ruang bagi kelompok yang mendukung kebijakan, tetapi juga memastikan kritik mendapat tempat yang sama dalam proses demokrasi.

Jangan sampai ada favoritism hanya kepada suara-suara yang pro-pemerintah yang tidak kritis, sementara suara yang kritis malah dikriminalisasi. Jika terjadi ketidakseimbangan akses, kita layak curiga kenapa kelompok pro diterima dengan baik, sementara kelompok kritis justru diabaikan,”

ucapnya.
Tag:Adinda TenriangkeBEM BersatudemokrasiPrabowo SubiantoPresidenThe Indonesian Institute (TII)
Share This Article
Email Salin Tautan Print
Rika Pangesti
ByRika Pangesti
Reporter
Follow:
Rika Pangesti adalah reporter di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu megapolitan dan berita nasional. Berlatar pendidikan Magister Ilmu Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina, ia memadukan pemahaman akademis dengan pengalaman lapangan — termasuk meliput untuk tvOnenews.com sejak 2022.
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya, Toponimi Jakarta Barat dan Toponimi Jakarta Timur, yang mendokumentasikan asal-usul nama wilayah dan jejak budaya ibu kota.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
Babak Baru Timur Tengah: Trump Teken Memorandum Damai dengan Iran
By Natania Longdong
Presiden AS Donald Trump teken kesepakatan perdamaian dengan Iran disaksikan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
1
BEM Bersatu Dukung MBG, Ada Dugaan Skenario Pecah Belah Gerakan Mahasiswa
By Rika Pangesti
Kelompok mahasiswa yang mengatasnamakan BEM Bersatu.
2
Sindir Tokoh yang Berubah Haluan Usai Dapat Jabatan, Islah Bahrawi: Jijik Lihatnya!
By Rahmat Tunny
Presiden Prabowo Subianto (tengah) berjalan di ruangan untuk memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara
3
Baru Rilis, Lagu “Follow Me” yang Melibatkan Jihyo TWICE Langsung Bikin Fans Kaget
By Ossid Duha Jussas Salma
Jihyo TWICE
4
Perkuat Nilai Tukar Rupiah, BI Kembali Naikkan Suku Bunga ke Level 5,75 Persen
By Anisa Aulia
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. (Sumber: YT BI)
5

BERITA LAINNYA

Kelompok mahasiswa yang mengatasnamakan BEM Bersatu.
Politik

BEM ‘Mahasewa’ Pro Pemerintah Bermunculan, Pengamat: Waspada Suara Kritis Bisa Tak Didengar

Fenomena munculnya dukungan terbuka sejumlah kelompok mahasiswa kepada pemerintah, seperti BEM Bersatu,…

Rika Pangestidusep-malik
By
Rika Pangesti
Dusep Malik
2 jam lalu
Menteri HAM RI Natalius Pigai.
Politik

Bela MBG, Menteri HAM Pigai Dikritik jadi Tameng Program Bermasalah

Figur Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai kembali jadi sorotan karena…

Rahmat Tunny OWRITEHardani Triyoga
By
Rahmat Tunny
Hardani Triyoga
2 jam lalu
Presiden Prabowo Subianto (tengah) berjalan di ruangan untuk memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara
Politik

Sindir Tokoh yang Berubah Haluan Usai Dapat Jabatan, Islah Bahrawi: Jijik Lihatnya!

Fenomena berubahnya sikap sejumlah tokoh politik setelah bergabung ke lingkar kekuasaan kembali…

Rahmat Tunny OWRITEAmin-Suciady-Owrite
By
Rahmat Tunny
Amin Suciady
4 jam lalu
Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menyampaikan paparan pada rapat kerja dengan Komisi XIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Politik

Keras! Guntur Romli: Pigai Lebih Bela Begal HAM daripada Anak Korban Keracunan MBG

Temuan Komnas HAM dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai…

Rahmat Tunny OWRITEHardani Triyoga
By
Rahmat Tunny
Hardani Triyoga
4 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up