Direktur Executive Partner Politik Indonesia, Abubakar Solissa mengingatkan PAN, NasDem, Demokrat dan partai menengah lainnya terancam kehilangan kursi DPR pada Pemilu 2029 akibat menguatnya manuver politik PSI.
Menurut Solissa, ancaman itu membayangi partai-partai petahana jika gagal memperkuat konsolidasi nasional. Pengalaman PPP tersingkir dari DPR pada Pemilu 2024 menjadi peringatan bahwa partai berbasis ideologi pun bisa kehilangan kursi parlemen.
Menurut saya, semua partai berpeluang tergerus dari parlemen, terutama partai-partai menengah ke bawah kalau tidak maksimal melakukan konsolidasi internal partai secara nasional,”
kata Solissa kepada Owrite, Rabu, 8 Juli 2026.
Kegagalan PPP pada Pemilu 2024, kata Solissa, menunjukkan tidak ada lagi jaminan sebuah partai akan tetap bertahan di Senayan hanya karena memiliki sejarah panjang dan basis pendukung yang loyal.
Pengalaman gagalnya PPP di 2024 bisa menjadi catatan penting bahwa partai sebesar PPP dengan basis pendukung ideologis yang kuat pun bisa terhempas dari parlemen,”
ucapnya.
Meski begitu, ia menilai ancaman tersebut masih bisa diantisipasi apabila partai-partai petahana mampu menjaga performa politik dan tidak lengah menghadapi perubahan peta persaingan menjelang Pemilu 2029.
Kalau partai-partai petahana mampu mempertahankan performa partai maka potensi mereka tergerus atau tersingkir dari parlemen akibat manuver PSI kemungkinan kecil bisa terjadi,”
ungkapnya.
Solissa menjelaskan, partai yang saat ini telah memiliki kursi di DPR sebenarnya masih memiliki modal politik yang lebih kuat dibandingkan pendatang baru.
Partai-partai yang sudah memiliki kursi parlemen memiliki beberapa keunggulan, antara lain, seperti mesin organisasi yang lebih mapan, jaringan kader dari pusat hingga daerah, pengalaman menghadapi pemilu, serta basis pemilih yang relatif sudah terbentuk cukup lama,”
jelasnya.
Namun, menurutnya, keunggulan organisasi semata tidak akan cukup apabila tidak diikuti figur yang kuat dan agenda politik yang mampu menjawab harapan masyarakat.
Pada akhirnya, Pemilu 2029 kemungkinan besar akan menjadi pertarungan antara kekuatan figur, kekuatan organisasi partai, dan kemampuan menawarkan agenda politik yang mampu menjawab harapan publik,”
ujar Solissa.
Ditambahkannya, partai yang mampu mengombinasikan ketiga aspek tersebut akan memiliki peluang lebih besar meraih dukungan pemilih.





















