Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Prabowo Harus Paham, Oposisi Justru Bisa Menyelamatkan Pemerintahannya

Sebaliknya, suara-suara alternatif diperlukan agar kebijakan yang diambil tetap berada dalam koridor demokrasi dan akuntabilitas.

Presiden Prabowo Subianto (kedua kanan) didampingi Mensesneg Prasetyo Hadi (kedua kiri), Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea (kiri), dan Ketua Umum KSPSI Jumhur Hidayat (kanan) menyapa massa buruh dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (1/5/2026). Dalam May Day 2026 para buruh menuntut adanya pengesahan RUU Ketenagakerjaan, penghapusan outsourcing dan penolakan upah murah, hingga kekhawatiran terhadap dampak konflik global yang berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Presiden Prabowo Subianto (kedua kanan) didampingi Mensesneg Prasetyo Hadi (kedua kiri), Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea (kiri), dan Ketua Umum KSPSI Jumhur Hidayat (kanan) menyapa massa buruh dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (1/5/2026). Dalam May Day 2026 para buruh menuntut adanya pengesahan RUU Ketenagakerjaan, penghapusan outsourcing dan penolakan upah murah, hingga kekhawatiran terhadap dampak konflik global yang berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/app/nz)

Pakar Hukum Tata Negara Denny Indrayana mengingatkan Presiden Prabowo Subianto, agar tidak memandang oposisi sebagai ancaman bagi pemerintah. 

Minimnya ruang oposisi di tengah koalisi pemerintahan yang sangat besar, menurutnya justru berpotensi melemahkan demokrasi dan mengurangi mekanisme kontrol terhadap kekuasaan.

Ketika koalisi kita itu tidak menyisakan ruang oposisi, dan oposisi menjadi kata-kata yang seakan-akan dihindari, maka sedikit banyak kita menuju, dan sudah sebenarnya, majority presidentialism,”

kata Denny Indrayana kepada Owrite, Jumat, 8 Agustus 2026.

Denny menilai, keberadaan oposisi merupakan bagian penting dalam sistem demokrasi. Pemerintah yang kuat bukanlah pemerintah tanpa kritik, melainkan pemerintah yang mampu menerima dan memanfaatkan kritik sebagai bahan evaluasi.

Iklan

Dan bahaya bagi Presiden karena oposisi itu sebenarnya obat penyelamat demokrasi. Jangan dibalik bahwa oposisi itu pengkhianat,”

ucapnya.

Dijelaskannya, kritik dan pandangan yang berbeda tidak seharusnya diposisikan sebagai bentuk permusuhan terhadap pemerintah. 

Sebaliknya, suara-suara alternatif diperlukan agar kebijakan yang diambil tetap berada dalam koridor demokrasi dan akuntabilitas.

Dalam kesempatan itu, eks Wamen Hukum dan HAM itu juga menyinggung tulisannya yang mengkritik cara pemerintah merespons kritik dari masyarakat. 

Itu sebabnya dalam beberapa waktu ini saya terus menulis, salah satu judulnya adalah ‘Londo Ireng Republik Antikritik’,”

jelasnya.

Denny berharap, Presiden Prabowo membuka ruang yang lebih luas dari berbagai pandangan di luar lingkaran pemerintah. 

Buat dia, mendengarkan suara alternatif justru akan memperkuat kualitas pengambilan keputusan dan menjaga kesehatan demokrasi.

Dan bagi saya, suara alternatif ini penting untuk didengarkan Presiden,”

tegasnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar

  • Redaktur Pelaksana

    Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal