Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Prabowo Diapit Jokowi-Gibran: Tiga Tafsir di Balik Momen Akrab di Istana

Momen Prabowo duduk akrab diapit Jokowi dan Gibran saat upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka, terus memunculkan berbagai perspektif.

Presiden Prabowo Subianto (ketiga kanan) membacakan naskah Proklamasi pada Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Ke-81 Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta
Presiden Prabowo Subianto (ketiga kanan) membacakan naskah Proklamasi pada Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Ke-81 Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/app/wsj.)

Momen Presiden Prabowo Subianto duduk diapit Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka, Senin, 17 Agustus 2027 terus memunculkan berbagai perspektif.

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga menilai, posisi duduk Prabowo yang diapit Jokowi dan Gibran dapat dibaca dari beberapa perspektif.

Tafsir pertama, bisa saja Prabowo duduk diapit Jokowi dan Gibran ditafsirkan sebagai counter isu,”

kata Jamil, sapaan akrab Jamiluddin Ritonga, kepada Owrite, Kamis, 20 Agustus 2026.

Menurutnya, momen duduk Prabowo yang diapit itu digunakan untuk meredam isu keretakan. Dengan momen itu mempertegas hubungan Jokowi dan Prabowo tak ada masalah.

Iklan

Momen itu digunakan oleh Prabowo untuk mengisyaratkan hubungannya dengan Jokowi dan Gibran baik-baik saja,”

jelas Jamil.

Meredam Rumor Perpecahan

Dia menilai, Prabowo bisa saja ingin menunjukkan kepada publik bahwa berbagai rumor mengenai hubungan dirinya dengan Jokowi dan Gibran tak perlu dibesar-besarkan.

Dengan begitu, Prabowo ingin menegaskan tak ada yang perlu diributkan terkait hubungannya dengan Jokowi dan Gibran,”

ujar Jamil.

Namun, Jamil mengatakan ada tafsir lain yang tidak kalah mungkin. Posisi Prabowo yang diapit Jokowi dan Gibran bisa saja terjadi semata-mata karena kebutuhan protokoler dalam acara kenegaraan.

Tafsir kedua, Prabowo diapit Jokowi dan Gibran hanya tuntutan protokoler. Jokowi mendampingi Prabowo, karena mantan presiden yang hadir hanya mantan wali kota solo tersebut,”

tuturnya.

Menurut Jamil, situasinya bisa berbeda apabila mantan presiden lainnya seperti Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), turut hadir dalam acara tersebut.

Bisa jadi hal itu tidak akan terjadi bila mantan presiden lainnya, seperti Megawati dan SBY hadir pada acara tersebut. Komposisi duduk Prabowo berpeluang tidak hanya diapit Jokowi dan Gibran,”

ujar Jamil.

Karena itu, Jamiluddin menilai publik tidak perlu buru-buru memberikan makna politik khusus terhadap posisi duduk tersebut.

Posisi duduk itu bisa jadi hanya tuntutan protokoler,”

sebut Jamil.

Posisi Sejajar Tak Wajar

Ia juga menyoroti posisi duduk Prabowo dan Jokowi yang terlihat sejajar. Menurutnya, secara protokoler seharusnya posisi mantan presiden tidak berada sejajar dengan presiden yang sedang menjabat.

Namun, kondisi itu terjadi setelah rangkaian acara resmi selesai sehingga tidak perlu dipandang sebagai persoalan mendasar.

Namun, karena peristiwa itu sudah selesai acara resmi, maka posisi duduk sejajar mantan presiden dan presiden tampaknya bukan persoalan mendasar,”

tutur Jamil.

Makna Tawa Prabowo

Jamil juga mengingatkan agar interaksi Prabowo, Jokowi, dan Gibran yang terlihat akrab tak serta-merta ditarik jadi kesimpulan politik. Untuk tafsir ketiga, momen Prabowo duduk sambil bercengkerama dan tertawa juga tak serta merta bisa ditafsirkan punya makna politik khusus.

Prabowo melakukan hal itu bisa jadi sebagai rasa hormatnya kepada presiden terdahulu,”

lanjut eks Dekan FIKOM IISIP Jakarta itu.

Menurutnya, sikap serupa kemungkinan juga akan ditunjukkan Prabowo ketika bertemu dengan tokoh senior lainnya, termasuk Megawati dan SBY.

Hal seperti itu juga dilakukan Prabowo bila bertemu Megawati dan SBY. Hormat Prabowo kepada seniornya bisa jadi buah didikan militer dan budaya Indonesia,”

tutur Jamil.

Dengan demikian, Jamil melihat suasana akrab dalam momen tersebut lebih tepat dipahami sebagai bentuk keramahan dan penghormatan Prabowo kepada tokoh yang lebih senior.

Di balik wajah keras Prabowo, terbersit kesopanan, ketulusan, dan keiklasan dalam menerima tamunya,”

ujar Jamil.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.

  • Redaktur Pelaksana

    Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal