Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Masuk Tahun Kedua, Prabowo Harus Tunjukkan Sikap Politiknya terhadap Jokowi-Gibran

Karena itu, Syahganda meminta publik menunggu bagaimana Prabowo menjalankan pemerintahan setelah memasuki tahun kedua.

Presiden Prabowo Subianto (tengah), Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kanan) dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (kiri) melambaikan tangan sebelum Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Ke-81 Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026).
Presiden Prabowo Subianto (tengah), Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kanan) dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (kiri) melambaikan tangan sebelum Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Ke-81 Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/wsj.)

Memasuki tahun kedua pemerintahan, Presiden Prabowo Subianto dinilai akan mulai menunjukkan sikap politik yang lebih jelas terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan kelompok politik yang berada di sekitar Joko Widodo alias Jokowi. 

Aktivis senior, Syahganda Nainggolan, melihat selama setahun pertama publik masih menyaksikan sikap Prabowo yang dinilai berubah-ubah terhadap Gibran, mulai dari merangkul hingga terlihat menjaga jarak.

Kalau selama ini secara publik kan masyarakat bingung. Sebentar Presiden memperlihatkan tidak mengajak Gibran dalam satu acara, apakah perjalanan dinas atau menyerahkan Gibran untuk memimpin rapat, seperti Jusuf Kalla dulu waktu Wapres mimpin rapat menteri-menteri untuk isu evaluasi pembangunan,”

katanya dikutip dari laman Youtube ForumKeadilanTV, Selasa, 1 September 2026.

Pilihan EditorHardani Triyoga

Prabowo Diapit Jokowi-Gibran: Tiga Tafsir di Balik Momen Akrab di Istana

Menurut Syahganda, ketidakjelasan tersebut juga terlihat dalam sejumlah agenda pemerintahan. Dalam beberapa kesempatan, Gibran terlihat duduk bersama Prabowo dalam rapat kabinet, tetapi pada momentum lainnya posisi keduanya tidak selalu berdampingan.

Iklan

Atau Gibran diserahkan atau diajak pada saat rapat kabinet duduk di sebelahnya. Kan sering juga nggak duduk di sebelahnya seperti itu. Apakah itu yang benar? Atau pada saat hari kemerdekaan, duduk di sebelah, diapit bapak dan anak?”

ungkapnya.

Persepsi Liar

Dikatakannya, perubahan sikap tersebut membuat publik mempertanyakan arah hubungan politik Prabowo dengan Gibran sekaligus Jokowi. 

Situasi itu memunculkan persepsi bahwa hubungan di antara tiga tokoh tersebut belum menunjukkan pola yang benar-benar tegas dan konsisten.

Yang orang anggap dua-duanya ini biasanya orang nggak jelas. Satu Jokowi nggak jelas, Gibran dianggap nggak jelas. Masa Presiden kita diapit dua orang itu? Ini kan pertanyaan di masyarakat,”

jelasnya.

Lebih jauh dia menilai, tahun kedua pemerintahan dapat menjadi momentum bagi Prabowo untuk memperlihatkan posisi politiknya secara lebih terang. 

Ditambahkan Syahganda, masyarakat ingin melihat sosok Prabowo yang sebenarnya setelah fase awal pemerintahan diwarnai berbagai kompromi politik.

Nah, mungkin Insya Allah kalau setelah 2 tahun berkuasa, Presiden bisa menunjukkan sikap yang lebih jelas, bukan tegas, maksudnya lebih benar, inilah gua sebenarnya,”

ucapnya.

Syahganda melanjutkan, kompromi politik pada tahun pertama masih dapat dipahami sebagai bagian dari upaya membangun stabilitas dan menjaga persatuan pemerintahan. 

Namun, fase tersebut dinilai tidak dapat berlangsung tanpa batas apabila Prabowo ingin menunjukkan karakter kepemimpinannya sendiri.

Kalau 2 tahun ini, oke lah, aku masih harus melakukan kompromi politik, melakukan kerja-kerja persatuan yang kadang-kadang bersatu itu antara yang zalim dan yang baik, antara yang kotor dan yang bersih,”

terangnya.

Karena itu, Syahganda meminta publik menunggu bagaimana Prabowo menjalankan pemerintahan setelah memasuki tahun kedua. 

Ia menilai periode tersebut akan menjadi fase penting untuk melihat apakah Presiden mulai mengambil jarak politik yang lebih jelas dari kekuatan-kekuatan yang selama ini membayangi pemerintahannya.

Mungkin setelah 2 tahun kita tunggu aja. Sekarang kan udah form sebenarnya ya,”

ujarnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar

  • Redaktur Pelaksana

    Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal