Elite PDI Perjuangan (PDIP) membaca pidato politik Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) soal kekuasaan yang tak berlangsung selamanya sebagai pernyataan yang bisa memiliki pesan politik lebih jauh.
Ketua DPP PDIP bidang Pemenangan Pemilu Eksekutif Deddy Yevri Sitorus mengatakan secara normatif, pernyataan AHY mengenai kekuasaan yang berbatas waktu sebenarnya merupakan hal biasa. Namun, konteks pidato politik membuat pernyataan tersebut bisa ditafsirkan berbeda.
Kalau cara pandangnya normatif tentu tidak ada yang harus dipersoalkan. Tetapi, masalahnya itu adalah pidato politik dan tentu punya konteks dan tujuan politik tertentu pula,”
kata Deddy, Kamis, 10 September 2026.
Deddy menyarankan dari sudut pandang politik, pernyataan AHY mungkin merupakan pesan kepada koalisi maupun institusi pemerintahan.
Karena itu, menurutnya, perlu dilihat apakah ada sinyal ketidakpuasan dari AHY maupun Partai Demokrat terhadap situasi internal pemerintahan.
Dari sudut pandang politik, pernyataan itu sangat mungkin ditafsir sebagai pesan kepada koalisi, institusi atau lembaga pemerintahan,”
ujar Deddy.
Deddy bahkan melihat kemungkinan pidato itu berkaitan dengan situasi internal pemerintahan. Namun, dia mengaku tak ingin berspekulasi mengenai ada atau tidaknya kekecewaan AHY.
Kalau ini yang dijadikan sudut pandang maka patut diduga ada ketidakpuasan yang dirasakan oleh AHY terhadap situasi internal pemerintahan atau institusi/lembaga tertentu,”
jelas Deddy.
Menurut dia, dugaan tersebut masih perlu diuji dengan melihat komunikasi dan interaksi AHY. Baik dalam kapasitasnya sebagai Menteri Koordinator maupun sebagai Ketua Umum Demokrat dengan Presiden.
Saya tidak berani menebak-nebak. Tinggal dicek seberapa sering AHY sebagai menteri atau ketua umum parpol berkomunikasi atau berinteraksi dengan Presiden,”
ujarnya.
Di sisi lain, Deddy melihat pidato AHY juga bisa dibaca sebagai bagian dari persiapan menghadapi kontestasi politik 2029. Salah satunya, pesan kepada partai-partai yang saat ini berada dalam pemerintahan untuk mulai memikirkan arah politik berikutnya.
Dari sudut pandang kontestasi politik, bisa saja ditafsirkan bahwa pernyataan itu adalah seruan kepada koalisi partai di pemerintahan untuk mulai memikirkan peta jalan baru menuju Pemilu 2029,”
lanjut Anggota DPR RI itu.
Lebih lanjut, Deddy menilai kemungkinan pidato tersebut merupakan pesan khusus kepada Presiden Prabowo Subianto agar memperhitungkan AHY atau Demokrat dalam pertarungan politik di 2029.
Atau bisa juga diinterpretasikan sebagai pesan khusus kepada Presiden agar menghitung AHY/Demokrat dalam kontestasi pemilu yang akan datang,”
ujar Deddy.
Meski demikian, Deddy menilai peluang AHY menuju Pilpres 2029 masih membutuhkan kerja politik yang tidak ringan.
Dia menyinggung tren kepuasan publik terhadap pemerintah dan Presiden yang disebutnya sedang menurun.
Saat ini kepuasan publik terhadap pemerintah dan Presiden mengalami tren yang menurun. Sangat bisa dipahami jika kemudian AHY/Demokrat menyimpulkan sekarang ini sebagai momentum yang tepat untuk masuk dalam kancah pertarungan politik menuju 2029,”
kata Deddy.
Namun, dia menilai AHY masih memiliki pekerjaan besar jika ingin mengejar sejumlah nama yang sudah muncul dalam radar survei. Deddy menyebut nama Dedi Mulyadi alias KDM dan Prabowo sebagai tokoh yang saat ini dinilai masih lebih unggul dalam survei.
Terutama untuk mengejar ketertinggalan terhadap berbagai tokoh yang sudah muncul dalam radar survei seperti KDM dan Prabowo sendiri,”
ujarnya.
























