Kritik terhadap frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto terus bermunculan. Kali ini datang dari mantan Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, yang menilai diplomasi modern tidak selalu harus dilakukan dengan perjalanan mahal ke berbagai negara.
Dino bahkan menyarankan Presiden Prabowo lebih sering memanfaatkan teknologi komunikasi seperti video call, telepon, atau konferensi daring untuk berkomunikasi dengan para pemimpin dunia.
Menurutnya, cara tersebut jauh lebih efisien dan mampu menghemat anggaran negara dalam jumlah besar.
Untuk menjaga komunikasi dengan pemimpin dunia lain, kami menyarankan Presiden Prabowo lebih mengandalkan video call atau zoom call atau telepon,”
kata Dino yang dikutip dari video pendek miliknya, Senin, 1 Juni 2026.
Mantan diplomat senior itu menjelaskan, berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun menangani hubungan internasional, inti pembicaraan dalam kunjungan bilateral sebenarnya relatif singkat. Sementara sebagian besar agenda lainnya hanya bersifat seremonial.
Pengalaman saya, suatu kunjungan bilateral biasanya hanya berpusat pada satu pembicaraan yang berlangsung selama satu jam, atau paling banter dua jam. Dan selebihnya basa-basi, jamuan, dan seremonial yang biasanya tidak perlu,”
ucapnya.
Karena itu, Dino menilai hasil substansi diplomasi dapat dicapai tanpa harus mengeluarkan biaya perjalanan yang sangat besar.
Jadi dengan satu video call yang bernilai 0 rupiah, negara praktis dapat menghemat ratusan miliar dari perjalanan ke luar negeri, dan hasilnya dari segi substansi juga kurang lebih sama,”
tegasnya.
Menurut Dino, langkah penghematan semacam itu juga dapat menjawab kritik publik, yang mulai mempertanyakan efektivitas kunjungan luar negeri Presiden yang frekuensinya cukup tinggi.
Aksi penghematan melalui zoom call ini dapat menjawab persepsi masyarakat, yang menganggap perjalanan Presiden ke luar negeri cenderung boros dan bersifat jalan-jalan,”
jelasnya.
Untuk memperkuat argumentasinya, Dino mencontohkan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum yang memilih mengandalkan komunikasi jarak jauh dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dibanding melakukan kunjungan bilateral langsung.
Sebagai contoh, Presiden Meksiko Claudia Shinbang sudah 17 kali menelpon Presiden Trump dan belum sekalipun melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Trump, padahal Amerika adalah mitra perdagangan terbesar bagi Meksiko,”
ungkapnya.
Tak hanya itu, Dino juga menyoroti langkah Presiden Meksiko yang memilih menggunakan pesawat komersial dalam kunjungan ke luar negeri sebagai simbol penghematan anggaran negara.
Dan dalam suatu kunjungan kerja ke Spanyol, Presiden Shinbang bahkan terbang menaiki pesawat komersil untuk memberikan teladan kepada rakyatnya, bahwa penghematan yang diserukannya pada seluruh pemerintahnya juga berlaku bagi Presiden di tingkat tertinggi,”
bebernya.
Selain memanfaatkan teknologi komunikasi, Dino menyarankan Presiden Prabowo mengoptimalkan forum-forum internasional untuk bertemu banyak pemimpin dunia sekaligus, sehingga tidak perlu melakukan perjalanan bilateral secara terpisah ke berbagai negara.
Untuk menghemat biaya dan waktu, kami juga mengajurkan agar Presiden Prabowo dapat memanfaatkan kunjungan ke suatu forum internasional untuk bertemu kepala negara lain yang juga hadir,”
pungkasnya.
Pernyataan Dino muncul di tengah perdebatan publik mengenai efektivitas diplomasi luar negeri Presiden Prabowo.
Di satu sisi pemerintah menyebut lawatan internasional penting untuk memperkuat kerja sama strategis, namun di sisi lain, kritik muncul karena biaya perjalanan dinilai sangat besar dan hasilnya belum sepenuhnya terlihat secara langsung oleh masyarakat.


