Baru-baru ini kembali viral prediksi kondisi ekonomi Indonesia menurut mendiang Ekonom Faisal Basri.
Dalam video diskusi yang diunggah YouTube Teater Utan Kayu, Faisal menjelaskan tentang kondisi ekonomi Indonesia, ia memprediksi terkait nilai rupiah. Hal itu ia jelaskan tepatnya tahun 2024 lalu.
Kalau nanti rupiahnya ke Rp18.000 atau Rp19.000 udah kacau semua nggak terekndali, subsidi udah nggak bisa lagi dari APBN karena habis buat yang lain-lain,”
ujar Faisal dalam video tersebut.
Rupanya, prediksi mendiang Fisal Bahri tepat. Saat ini nilai tukar rupiah ambruk ke level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini menjadi yang terparah sepanjang sejarah Indonesia.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menilai pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai.
Sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging.
Selain itu juga didorong oleh kebutuhan domestik yang masih cukup besar, sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran Ulang Luar Negeri (ULN).
Meski demikian, ia memastikan Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik, dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya.
Prediksi Konflik Politik
Dalam kesempatan itu, Faisal Basri tidak hanya membahas soal ekonomi, tapi juga potensi dinamika politik nasional yang menurutnya dapat muncul bersamaan dengan tekanan ekonomi.
Ia memprediksi adanya kemungkinan hubungan politik antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi, mengalami mengalami kerenggangan.
Pada saat yang bersamaan terjadi konflik politik, saya rasa Prabowo akan meninggalkan Jokowi. Jokowi kecewa, mulai tensions, kalau politik dan ekonominya nyatu, krisis terjadi saya perkirakan paling lama 2026,”
tegasnya.
Lantas apakah prediksi Faisal soal konflik politik antara Prabowo dan Jokowi akan tepat?




