Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat tajam setelah Teheran mengumumkan serangkaian serangan terhadap sejumlah aset militer Washington di kawasan Teluk. Di saat yang sama, Iran juga membantah omongan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim sudah menerima permintaan dari pejabat Iran untuk menghentikan serangan militer.
Mengutip dari Anadolu, Kamis, 11 Juni 2026, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran pada Kamis pagi menyatakan sudah menyerang sedikitnya 18 sasaran militer utama milik AS yang berada di Kuwait dan Bahrain.
Menurut IRGC, target yang diserang meliputi Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Ahmad Al Jaber di Kuwait. Selain itu, Pangkalan Sheikh Isa di Bahrain.
IRGC menyampaikan serangan itu disebut sebagai bagian dari respons Iran atas aksi militer AS yang sebelumnya menargetkan wilayah selatan Iran.
Secara terpisah, militer Iran juga mengklaim telah membidik sejumlah fasilitas strategis milik AS di Bahrain. Hal itu termasuk sistem pertahanan udara Patriot dan fasilitas komunikasi Armada Kelima AS yang berbasis di negara tersebut.
Tak hanya itu, Teheran menyebut sudah meluncurkan drone bunuh diri ke arah Armada Kelima AS sebagai bagian dari operasi balasan terhadap serangan yang dituding dilakukan Washington.
Militer Iran menyampaikan bahwa pasukannya siap menghadapi segala bentuk konfrontasi lebih lanjut.
Iran juga menegaskan siap melawan musuh sampai nafas terakhir. Teheran tak akan mundur sebelum pihak yang dianggap bertanggung jawab menerima hukuman atas tindakannya.
Rangkaian serangan itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional setelah serangan AS terhadap wilayah selatan Iran. Manuver itu memicu aksi balasan yang menargetkan berbagai aset militer AS di kawasan Timur Tengah.
Iran Bantah Klaim Trump
Di tengah memanasnya situasi, Iran juga membantah pernyataan Presiden AS Trump yang mengaku sudah berkomunikasi langsung dengan pejabat Iran.
Sebelumnya, Trump dalam wawancara dengan Fox News menyatakan bahwa sejumlah pejabat Iran sudah memintanya untuk menghentikan pengeboman terhadap negara mereka.
Trump mengaku sudah berbicara langsung dengan para pejabat Iran yang memintanya untuk menghentikan pengeboman. Ia juga menyebut serangan yang terjadi dalam beberapa jam terakhir kemungkinan segera berakhir.
Namun, Trump menegaskan bahwa ia punya hak untuk kembali melancarkan serangan jika diperlukan.
Namun, televisi pemerintah Iran mengutip pernyataan seorang pejabat senior yang menolak klaim tersebut.
Pejabat itu menyebut pernyataan Trump sebagai informasi yang tak benar dan hanya bertujuan menutupi tekanan yang sedang dihadapi AS dalam konfrontasi dengan Teheran.
Pernyataan Trump dimaksudkan untuk menutupi kemunduran AS dari konfrontasi dengan Teheran,”
kata pejabat senior Iran dikutip dari Anadolu, Kamis, 11 Juni 2026.


