Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengancam siap menutup kembali Selat Hormuz menyusul gelombang serangan Israel di Lebanon. Langkah tersebut berpotensi mengguncang perdagangan energi dunia.
Ancaman Teheran itu juga mengancam proses diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang tengah menjalin asa perdamaian.
Dari laporan CBS News, Iran menuduh AS dan Israel melanggar nota kesepahaman yang disepakati pekan ini. Hal itu terutama terkait komitmen untuk mendorong penghentian konflik di Lebanon dan penarikan pasukan Israel dari wilayah selatan negara tersebut.
Ancaman terbaru dari Teheran muncul hanya beberapa jam setelah laporan mengenai tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah. Namun, serangan yang Israel masih terjadi di Lebanon dan jatuhnya korban jiwa membuat situasi kembali memanas.
Diplomasi AS-Iran Dibayangi Krisis Lebanon
Di tengah meningkatnya ketegangan, pembicaraan antara AS dan Iran yang sempat tertunda dijadwalkan kembali berlangsung di Swiss.
Utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner sudah tiba di Swiss pada Sabtu pagi. Wakil Presiden AS JD Vance juga bertolak menuju negara tersebut untuk bergabung dalam proses negosiasi.
Seorang diplomat yang mengikuti pembicaraan mengatakan bahwa konflik Israel-Hizbullah kini jadi agenda darurat yang ditambahkan pada hari pertama perundingan.
Bahkan, isu Lebanon akan jadi topik pertama yang dibahas ketika delegasi AS dan Iran memulai pertemuan mereka.
Selain AS dan Iran, perundingan juga melibatkan mediator dari Qatar dan Pakistan. Dengan ulah Israel itu menambah proses diplomasi yang masih rapuh.
Tapi, baik Israel, Hizbullah, maupun pemerintah Lebanon tak menjadi peserta langsung dalam pembicaraan tersebut. Adapun keputusan Washington mengizinkan isu konflik Israel-Hizbullah masuk ke dalam meja perundingan dengan Iran dinilai sebagai perubahan penting dalam strategi diplomasi AS.
Iran menyampaikan ancaman penutupan Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon. Teheran juga menilai pelanggaran komitmen AS terkait upaya gencatan senjata.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bahkan memperingatkan kapal-kapal agar tidak mendekati jalur selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran vitaldi dunia. Sebelum konflik terbaru pecah, jalur itu jadi rute pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair global.
AS Bantah Hormuz Ditutup
Pemerintah AS menepis pernyataan Iran. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) membantah Selat Hormuz telah ditutup. AS klaim jalur pelayaran internasional tersebut masih beroperasi normal.
Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz,”
kata juru bicara CENTCOM, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins dikutip dari CBS News, Minggu, 21 Juni 2026.
Hawkins menuturkan lalu lintas di Selat Hormuz masih terus mengalir.
Dan, pasukan AS memantau situasi untuk memastikan hal ini tetap demikian,”
ujar Hawkins.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Washington berupaya meredam kekhawatiran pasar. Selain itu, AS melalui militernya ingin jaga citra soal perdamaian dalam kawasan Teluk.
Jika Iran benar menutup Selat Hormuz maka jadi pukulan telak bagi Presiden AS Donald Trump. Posisi Trump makin panas karena sudah banjir kritik dari publik AS.
Sementara, Wakil Presiden AS JD Vance mengaku masih berharap perundingan dengan Iran dapat menghasilkan kemajuan. Dia tak menampik situasi regional saat ini malah terus memburuk.
Saat bertolak menuju Swiss dari Pangkalan Gabungan Andrews di Maryland, Vance bilang bahwa pemerintah AS akan tetap fokus pada dua isu utama, yakni program nuklir Iran dan upaya menghentikan konflik di Lebanon.
Saya pikir kita mudah-mudahan akan membuat kemajuan dalam masalah nuklir. Membuat kemajuan dalam masalah gencatan senjata Lebanon,”
kata Hawkins.


























