Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Indonesia, Ray Rangkuti mengatakan, agenda pembenahan penegakan hukum, termasuk menyikapi kasus dugaan korupsi dan TPPU yang menjerat mantan Jampidsus Febrie Adriansyah, akan sulit diwujudkan apabila masih dikemas dengan narasi “reformasi”.
Hal ini disampaikan Ray Rangkuti dalam diskusi publik di kantor Formappi, Jakarta Timur, terkait pandangannya mengenai pendekatan politik dan psikologis Presiden Prabowo Subianto terhadap istilah “reformasi”.
Apakah mungkin Pak Prabowo diharapkan melakukan perubahan? Enggak mungkin. Apalagi kalau Anda menyebut istilah reformasi,”
kata Ray Rangkuti, Selasa, 14 Juli 2026.
Dia menjelaskan, kegagalan berbagai agenda pembenahan institusi penegak hukum tidak lepas dari cara membingkai program tersebut, termasuk penggunaan istilah reformasi.
Saya merenung-renung sekarang, kenapa reformasi polisi itu gagal. Karena kita pakai judulnya reformasi polisi. Kalimat yang boleh jadi secara psikologis agak menakutkan bagi Pak Prabowo,”
ucapnya.
Menurut Ray Rangkuti, pandangan tersebut berkaitan dengan pengalaman politik Prabowo pada masa Reformasi 1998.
Karena kata reformasi itulah beliau ke Jordan. Beliau dipecat dari TNI. Alasan psikologis,”
ujarnya.
Atas dasar itu, Ray Rangkuti berpendapat istilah yang digunakan pemerintah dalam membenahi institusi penegak hukum sebaiknya tidak menggunakan kata “reformasi”, melainkan istilah yang lebih netral.
Jadi ketika disebut tim reformasi polisi, saya khawatir beliau sudah terlebih dahulu gemetar dengan kata itu. Mestinya jangan menyebut kata reformasi di situ. Tim perbaikan, tim pembenahan, tapi jangan pakai kata reformasi,”
jelasnya.
Ia menambahkan, menurut pandangannya, istilah tersebut memiliki beban psikologis bagi Presiden sehingga dapat memengaruhi penerimaan terhadap agenda pembenahan.
Boleh jadi itu agak traumatik bagi Pak Prabowo. Karena kata reformasi itu membuat hidupnya, sepanjang yang kita tahu, mengalami kesulitan. Reformasi itulah yang membuat Pak Prabowo mengalami hidup yang sulit,”
bebernya.
Ray menutup pandangannya dengan menyebut pengalaman hidup Prabowo sebelum era Reformasi berbeda dengan setelah perubahan politik 1998.
Sebelumnya itu hidupnya kan baik-baik aja semua kan. Sejak dari kecil sudah kaya raya, dan seterus-terusnya itu. Itu berubah setelah reformasi, dia harus lari ke Jordania dan dipecat dari TNI,”
tutup Ray Rangkuti.






















