Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Asap dan polutan yang dihasilkan dapat menyebar jauh dari lokasi kebakaran dan mengubah kualitas udara di wilayah lain.
Karena itu, pemantauan karhutla kini tak cukup hanya dengan mengetahui di mana titik api muncul, tetapi juga perlu melihat bagaimana kondisi atmosfer berubah setelahnya.
Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) IPB University mengembangkan sistem pemantauan kualitas udara yang dikaitkan dengan kejadian karhutla berbasis data satelit secara near-real time (NRT).
Sistem tersebut terintegrasi dalam platform WebGIS yang mencakup seluruh wilayah Indonesia dengan pembaruan data setiap hari.
Melalui sistem ini, pengguna dapat melihat lokasi titik panas (hotspot) sekaligus memantau perubahan kondisi kualitas udara dan atmosfer yang menyertainya.
Begitu pula dengan data historis juga tersimpan sehingga perkembangan karhutla dan perubahan kualitas udara dapat ditelusuri dari waktu ke waktu.
Menurut Kepala Laboratorium Instrumentasi dan Monitoring Lingkungan Hidup PPLH IPB University, Tubagus Ahmad Mufawwaz, sistem tersebut mengintegrasikan sejumlah sumber data penginderaan jauh satelit untuk memudahkan pengamatan indikasi kebakaran dan perubahan kondisi atmosfer dalam satu platform secara spasial dan temporal.
Dengan sistem near-real time ini, informasi terbaru dapat diperbarui dan dipublikasikan setiap hari lewat dashboard WebGIS. Data historis juga tetap tersimpan sehingga kita dapat mengikuti perkembangan kejadian dari waktu ke waktu,”
jelas Fawwaz.
Dengan mengintegrasikan data titik panas dan kondisi atmosfer, kita dapat menganalisis keterkaitan spasial dan temporal antara kejadian karhutla dengan perubahan kualitas udara, ujarnya.
Pemantauan Karhutla Dikembangkan
Kepala PPLH IPB University, Yudi Setiawan, mengatakan sistem pemantauan karhutla perlu dikembangkan lebih jauh karena kebakaran yang berulang tidak hanya meninggalkan kerusakan pada ekosistem, tetapi juga membawa persoalan kualitas udara.
Menurutnya, teknologi satelit memungkinkan pemantauan dilakukan dalam cakupan yang lebih luas dan konsisten. Hal ini menjadi penting karena stasiun pemantauan kualitas udara berbasis darat memiliki cakupan yang terbatas dibandingkan luas wilayah Indonesia.
Karena kejadian karhutla terus berulang, kita tidak cukup hanya mengetahui kondisi hari ini. Kita juga perlu memahami pola kejadiannya: di mana kebakaran berulang terjadi, kapan intensitasnya meningkat, dan bagaimana perubahan kualitas udara mengikuti kejadian tersebut,”.
tambah Yudi.
Untuk itu, informasi time-series menjadi sangat penting untuk membangun pemahaman. Sementara itu data selanjutnya dapat digunakan sebagai salah satu sumber informasi ilmiah bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk menentukan wilayah yang perlu mendapat prioritas pemantauan maupun penanganan karhutla.
Ke depan, PPLH IPB University akan mengembangkan sistem dengan menggabungkan data satelit, pengamatan kualitas udara berbasis darat, serta informasi meteorologi dan lingkungan lainnya.
Integrasi ini ditujukan untuk memperkuat analisis mengenai hubungan antara sumber kebakaran, kondisi meteorologi, pergerakan polutan, dan perubahan kualitas udara.
Pengembangan tersebut juga diarahkan menuju sistem peringatan dini (early warning system) kualitas udara terkait karhutla.
Dengan demikian, sistem tidak hanya menjadi alat untuk melihat apa yang sudah terjadi, tetapi juga dapat membantu mengantisipasi dampak karhutla dan mempercepat pengambilan keputusan.
Dengan demikian, teknologi ini dapat berkembang menjadi sistem pendukung pengambilan keputusan untuk mitigasi dampak karhutla terhadap kualitas udara di Indonesia,”
tambah Yudi.























