Bank Indonesia (BI) buka suara, terkait ambruknya nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp17.505. Pelemahan ini disebut BI masih disebabkan oleh kondisi di Timur Tengah, dan meningkatnya permintaan dolar AS.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung dengan intensitas tinggi telah membuat nilai tukar rupiah mengalami tekanan.
Tekanan rupiah dalam hari ini meningkat karena conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat, sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,”
ujar Destry saat dihubungi Owrite.id Selasa, 12 Mei 2026.
Sedangkan dari dalam negeri Destry menjelaskan, tertekannya nilai tukar rupiah datang dari tingginya permintaan terhadap dolar AS akibat faktor musiman.







