Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Rupiah Babak Belur Tembus Level Rp17.505, BI Ungkap Biang Keroknya

Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym)

Bank Indonesia (BI) buka suara, terkait ambruknya nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp17.505. Pelemahan ini disebut BI masih disebabkan oleh kondisi di Timur Tengah, dan meningkatnya permintaan dolar AS.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung dengan intensitas tinggi telah membuat nilai tukar rupiah mengalami tekanan. 

Tekanan rupiah dalam hari ini meningkat karena conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat, sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,”

ujar Destry saat dihubungi Owrite.id Selasa, 12 Mei 2026.

Sedangkan dari dalam negeri Destry menjelaskan, tertekannya nilai tukar rupiah datang dari tingginya permintaan terhadap dolar AS akibat faktor musiman. 

Iklan

Dari domestik, meningkatnya kebutuhan dolar secara musiman seperti pembayaran ULN dan pembayaran dividen serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dolar di pasar domestik,”

jelasnya.

BI Intervensi

Untuk itu, Destry menyatakan bahwa otoritas moneter berkomitmen selalu berada di pasar dengan melakukan intervensi cerdas, baik di pasar sport Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF).

BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF maupun NDF dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah,”

tegasnya.

Destry mengungkapkan, saat ini kepercayaan investor asing di aset portfolio juga membaik. Hal itu tercermin dari masuknya inflow, khususnya ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang selama bulan April sebesar Rp61,6 triliun.

Selain itu, ketersediaan likuiditas valas di pasar domestik BI juga masih cukup tinggi, dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) valas di akhir Maret mencapai 10,9 persen year to date (ytd). 

Dengan demikian, Destry memperkirakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang bersifat musiman akan kembali mereda, dan rupiah akan kembali ke level fundamentalnya.

BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya,”

jelasnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur Pelaksana

    Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal