Baru-baru ini viral di media sosial fenomena air laut yang surut secara drastis di kawasan pesisir Lampung Tengah. Momen tersebut dibagikan oleh akun TikTok Topan Desmon.
Dalam narasi di video itu, pemilik akun menjelaskan fenomena itu terjadi di kawasan sentra Ikan Asin Kampung Nelayan, Provinsi Lampung.
Fenomena tersebut menjadi semakin ramai diperbincangkan karena terjadi di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda.
Sejumlah warganet kemudian mengaitkan kondisi air laut yang surut dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang tengah berlangsung. Tidak sedikit dari mereka yang merasa khawatir fenomena itu bisa menyebabkan tsunami.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengimbau kepada masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung untuk tetap tenang dan tidak mempercayai isu-isu hoaks terkait erupsi yang dikaitkan dengan potensi tsunami.
Warga diminta beraktivitas normal sambil terus mengikuti arahan BPBD setempat,”
ujar Lana dalam keterangan resmi, dikutip Senin, 7 September 2026.
Badan Geologi Kementerian ESDM melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas gunung api aktif di Indonesia, termasuk Gunung Anak Krakatau.
Pemantauan khusus terhadap Gunung Anak Krakatau dilakukan melalui dua pos pengamatan, yakni Pos Pengamatan Pasauran di Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, serta Pos Pengamatan Kalianda di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Dengan pemantauan yang terus dilakukan dan kepatuhan masyarakat terhadap rekomendasi keselamatan, perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau diharapkan dapat terus ditangani melalui langkah mitigasi berbasis informasi dan pengamatan gunung api,”
tandasnya.
























